Global

3 menit baca

Maya Kartika

Trump Tangguhkan Sanksi Tarif Rusia, Ukraina Mengecam Keras Kebijakan AS

Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengecualikan sanksi dan tarif terhadap pendapatan energi Rusia, memicu protes keras dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang menyebut langkah ini hanya menyemangati Putin untuk terus menyerang.

lake-781fe77d-1003-4d85-b58f-f235229de709-0.jpg

Trump Tiba-tiba Tangguhkan Sanksi Tarif Rusia, Ukraina Protes Keras

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengecualikan sanksi dan tarif menyeluruh AS yang menargetkan pendapatan energi Rusia, menandai titik terendah baru dalam hubungan Washington dengan Ukraina yang tengah dilanda perang.

Keputusan ini diambil saat Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mendesak para pemimpin Uni Eropa untuk terus membiayai perjuangan Kyiv dengan dana tambahan hampir USD 80 miliar tahun depan, di tengah menurunnya dukungan dari pemerintahan Trump.

Trump membatalkan penerapan Lindsey Graham Act, undang-undang yang ditandatanganinya sendiri pada 18 September 2026. Undang-undang yang dinamai untuk menghormati Senator Lindsey Graham yang meninggal pada Juli 2026 itu memberikan wewenang kepada presiden AS untuk mengenakan bea masuk hingga 500 persen terhadap impor Rusia dan hingga 100 persen terhadap barang dari lima negara importir terbesar minyak dan gas Rusia, termasuk China dan India.

Kesepakatan Diesel dengan Moskow

Langkah Trump ini muncul setelah ia mencapai kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 9 Oktober 2026 untuk melonggarkan sanksi terhadap Rusia sebagai imbalan atas tindakan Moskow melepas lebih dari 4 juta ton pasokan diesel ke pasar global. Departemen Keuangan AS menerbitkan lisensi umum sementara yang menangguhkan sanksi diesel Rusia hingga April 2027.

Kesepakatan ini dilakukan di tengah krisis bahan bakar global yang dipicu oleh perang AS-Iran. Penutupan Selat Hormuz, yang menjadi jalur lebih dari 20 persen perdagangan minyak dunia, telah menciptakan hambatan besar bagi pasokan energi. Badan Energi Internasional mengklasifikasikan gangguan ini sebagai guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, dengan hampir 20 juta barel per hari minyak mentah dan produk minyak bumi terhenti.

Harga diesel di AS tetap berada di atas USD 6 per galon, menciptakan tekanan politik besar bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu bulan November. Sebagai respons terhadap krisis, negara-negara G7 sepakat melepaskan 100 juta barel cadangan darurat diesel dan minyak mentah, menyusul tekanan AS terhadap Uni Eropa.

Ukraina Mengecam Kebijakan Trump

Presiden Zelensky merespons dengan keras keputusan Trump.

Sanksi AS yang 'gulung tikar', pelonggaran tekanan terhadap pihak agresi, serta imbalan finansial bagi Putin -- semua ini hanya mendorongnya untuk terus melancarkan serangan
, kata Zelensky, seraya menyerukan kepada para sekutu untuk terus menekan Rusia.

Kecaman Zelensky muncul di tengah upayanya mengamankan dukungan finansial dari Eropa. Uni Eropa telah menyetujui paket pinjaman sebesar 90 miliar euro (sekitar USD 104 miliar) untuk menutupi kebutuhan pembiayaan Ukraina pada 2026 dan 2027, dengan hampir USD 70 miliar untuk bantuan militer dan lebih dari USD 34 miliar untuk dukungan anggaran.

Kesepakatan diesel Trump dengan Putin juga menghadapi kritik dari dalam negeri. Sekelompok tujuh senator AS dari kedua partai menyatakan bahwa keputusan tersebut melanggar undang-undang tahun 2022 yang melarang impor minyak dan produk minyak bumi Rusia ke AS.

Latar Belakang Strategis

Kesediaan Rusia untuk mengekspor diesel terjadi setelah Ukraina menghancurkan sekitar separuh kapasitas kilang Rusia melalui serangan drone, memaksa Moskow menghentikan ekspor produk diesel dan menciptakan kelangkaan bahan bakar domestik di Rusia. Hal ini menjelaskan mengapa Putin bersedia membuat kesepakatan diesel meskipun sebelumnya melarang ekspor.

Langkah Trump untuk menangguhkan sanksi ini dipandang melemahkan strategi militer Ukraina yang telah berhasil menargetkan infrastruktur energi Rusia sebagai cara untuk memotong sumber pendanaan perang Moskow.

Perang UkrainaTiongkokDonald Trump
← Kembali ke Global

Berita lainnya