1. Memilih apa yang layak diberitakan
Kami memprioritaskan peristiwa dan isu yang memiliki makna publik bagi Indonesia: kerja pemerintahan dan parlemen, penyelenggaraan pemilu, hukum dan penegakannya, ekonomi yang menyentuh dompet warga, dinamika sosial di kota dan daerah, kabar dunia yang berpengaruh ke tanah air, olahraga, teknologi, sains, kesehatan, dan kehidupan sehari-hari. Editor kami menimbang tiga hal sebelum sebuah topik dikerjakan: signifikansinya bagi publik, dapat tidaknya ia diverifikasi, dan relevansinya bagi pembaca. Potensi klik tidak pernah menjadi penentu; sebuah cerita dari daerah terpencil yang penting bagi warganya bisa mendahului topik yang sedang ramai tetapi tipis maknanya.
2. Dari mana kami menggali
Setiap artikel dibangun dari peliputan terbuka, keterangan resmi, dokumen pengadilan dan lembaga negara, laporan korporasi, serta kesaksian orang-orang yang teridentifikasi, dengan keutamaan pada sumber primer dan sumber Indonesia kapan pun tersedia. Ketika sebuah berita bertumpu pada peliputan asli media lain, kami menyebutnya dan menautkannya; eksklusif milik redaksi lain tidak pernah kami sajikan sebagai milik kami. Spekulasi, rumor yang belum teruji, dan klaim anonim di media sosial tidak kami perlakukan sebagai fakta, sekeras apa pun gaungnya di linimasa.
3. Verifikasi oleh manusia, bukan mesin
Sebelum terbit, seorang editor memeriksa setiap klaim faktual dalam artikel, meliputi nama, angka, tanggal, kutipan, jabatan, dan lokasi, terhadap sumber asalnya. Apa yang tidak dapat diverifikasi akan diberi label tegas sebagai belum terkonfirmasi, atau dicoret sama sekali. Pemeriksaan ini dilakukan manusia pada setiap artikel, dan standarnya justru dinaikkan, bukan dilonggarkan, ketika sebuah berita memuat tuduhan kesalahan terhadap orang atau lembaga yang disebut namanya.
4. Pagar antara berita, analisis, dan opini
Kami menjaga jarak yang tegas antara berita langsung, tulisan penjelasan atau analisis, dan konten opini atau komentar. Ketiganya diberi penanda sesuai jenisnya, dan kami tidak membiarkan analisis maupun opini merembes ke dalam berita yang menjadi rujukannya. Pembaca berhak tahu sedang membaca apa.
5. Ketika berita berkembang
Berita yang sudah terbit diperbarui ketika ada fakta baru yang material. Pembaruan substantif diberi penanda waktu dan catatan singkat mengenai apa yang berubah dan mengapa. Adapun kesalahan ditangani melalui kebijakan koreksi kami, yang mengatur seberapa cepat dan seberapa terlihat perbaikan dilakukan.
6. Merdeka dari kepentingan
Keputusan redaksional diambil oleh editor kami sendiri, terpisah dari pengiklan, sponsor, dan mitra komersial mana pun. Cara kami memisahkan dan menandai konten berbayar dijelaskan secara terperinci di halaman periklanan. Pertanyaan mengenai artikel tertentu atau mengenai kebijakan ini sendiri dapat dikirim ke [email protected].
Halaman terkait: Kebijakan Koreksi, Periklanan.
