Global

3 menit baca

Maya Kartika

Intelijen Mesir Tiga Kali Peringatkan Netanyahu soal Ancaman Serangan Hamas

Kepala Intelijen Mesir Abbas Kamel menelepon langsung Netanyahu pada awal Oktober 2023 untuk menyampaikan peringatan ketiga soal ancaman besar Hamas, namun diabaikan. Kegagalan antisipasi ini kini jadi isu utama pemilu Israel.

6990703968e27.jpg

Peringatan Berulang dari Mesir Diabaikan

Peringatan berulang dari otoritas intelijen Mesir kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjelang serangan Hamas 7 Oktober 2023 kembali menjadi sorotan publik Israel menjelang pemilihan umum 27 Oktober 2026.

Kepala Intelijen Mesir, Abbas Kamel, yang menjabat sebagai Direktur Intelijen Umum Mesir sejak Juni 2018 dan merupakan salah satu kepercayaan terdekat Presiden Abdel Fattah el-Sisi, dilaporkan menelepon langsung Netanyahu pada awal Oktober 2023. Panggilan tersebut merupakan peringatan ketiga tentang potensi serangan besar-besaran dari Hamas.

Sebelumnya, intelijen Mesir telah mengirimkan sinyal peringatan sejak Juni 2023 dengan mendorong Israel membuka kembali dialog politik akibat ketidakstabilan di Gaza. Pada September 2023, Kamel bahkan terbang langsung ke Israel untuk menyampaikan bahwa kondisi sosial-politik Gaza berada di ambang ledakan. Peringatan intensif terus disampaikan hingga 48 jam sebelum serangan terjadi.

Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed juga menyampaikan peringatan serupa pada September 2023. Namun, semua sinyal bahaya tersebut diabaikan oleh pemerintah Israel.

Dampak Serangan 7 Oktober 2023

Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil Israel, menjadikannya hari paling mematikan bagi warga Yahudi sejak Holocaust dan hari paling kelam bagi Israel sejak kemerdekaannya. Lebih dari 240 orang disandera, termasuk 44 orang dari festival musik Nova dan 74 orang dari kibbutz Nir Oz.

Serangan tersebut menjadi kegagalan intelijen terburuk Israel sejak Perang Yom Kippur 1973, ketika Israel dikejutkan oleh serangan dua front dari Mesir dan Suriah. Direktorat Intelijen Militer Israel dilaporkan telah mengeluarkan setidaknya empat peringatan terpisah kepada Netanyahu antara Maret dan Juli 2023 tentang potensi ancaman Hamas. Pada Juli 2023, Kepala Shin Bet Ronen Bar bahkan secara eksplisit memperingatkan Netanyahu bahwa

perang akan datang.

Kontroversi Politik Menjelang Pemilu

Pengungkapan kontak telepon antara Kamel dan Netanyahu memicu sorotan tajam publik hanya beberapa pekan menjelang pelaksanaan pemilu Israel. Meskipun Kantor Perdana Menteri Israel memblokir laporan tersebut dan membantah adanya percakapan tingkat tinggi, bocornya informasi intelijen dari negara-negara Arab ini memperkuat tuduhan kelalaian fatal terhadap kepemimpinan Netanyahu.

Pemilu 27 Oktober 2026 merupakan pemilu Knesset pertama yang diselenggarakan tepat waktu sejak 1988, mengakhiri krisis politik berkepanjangan yang menyaksikan lima kali pemilu dadakan berturut-turut antara 2018-2022.

Kumpulan fakta yang terungkap mengenai peringatan dari dinas keamanan dan pejabat asing tidak menyisakan ruang untuk keraguan. Netanyahu telah membawa Negara Israel, dalam kebutaan, kesombongan, dan ketidakbertanggungjawaban, menuju bencana terbesar dalam sejarahnya.

Demikian tegas Kandidat Oposisi Utama Pemilu Israel, Gadi Eisenkot.

Opini Publik dan Jajak Pendapat

Jajak pendapat terbaru dari Israel Democracy Institute mencatat bahwa 68 persen pemilih Yahudi Israel menjadikan tragedi 7 Oktober sebagai pertimbangan utama dalam memilih partai politik. Polling September 2026 menunjukkan blok Netanyahu rata-rata meraih 53 kursi sementara oposisi meraih 55 kursi dengan partai-partai Arab memegang 12 kursi, semuanya masih di bawah mayoritas 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan di Knesset yang beranggotakan 120 kursi.

Netanyahu terus menolak pembentukan komisi penyelidikan independen yang diawasi Mahkamah Agung untuk mengkaji kegagalan kepemimpinan yang berkontribusi pada serangan 7 Oktober, meskipun Shin Bet dan militer telah melakukan penyelidikan internal mereka sendiri. Netanyahu juga melemparkan tanggung jawab kegagalan intelijen kepada para kepala dinas keamanan dan militer, dengan bergeming bahwa dirinya tidak dibangunkan atau diberi tahu informasi krusial pada pagi hari sebelum serangan meluas.

Isu pertanggungjawaban kepemimpinan atas bencana keamanan nasional menjadi batas tegas bagi para pemilih.

Demikian papar Peneliti Senior Israel Democracy Institute, Tamar Hermann.

Perang Gaza yang dipicu serangan 7 Oktober telah mengakibatkan lebih dari 70.000 kematian warga Palestina hingga November 2025, menambah dimensi regional pada perdebatan politik domestik Israel tentang kepemimpinan Netanyahu.

GazaTiongkokPemilu
← Kembali ke Global

Berita lainnya