Global

2 menit baca

Maya Kartika

Pentagon Siapkan Opsi Serangan Militer AS ke Iran Sebelum Pemilu Sela 2026

Pemerintahan Trump meminta Pentagon menyusun berbagai opsi serangan terhadap Iran yang dapat dilaksanakan sebelum pemilu sela 3 November 2026, dengan target mencakup industri energi Iran.

6abef441a3eca.jpg

Pentagon Siapkan Opsi Serangan Militer AS ke Iran Sebelum Pemilu Sela 2026

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menginstruksikan Pentagon untuk menyiapkan sejumlah opsi serangan militer terhadap Iran yang dapat dieksekusi sebelum pemilihan umum sela (midterm election) pada 3 November 2026.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) saat ini tengah menyusun berbagai pilihan operasi militer. Namun, detail mengenai target spesifik, skala serangan, serta keputusan final apakah Trump akan memberikan perintah serangan masih dalam tahap pembahasan internal.

"Departemen ini bertugas mengembangkan dan menyajikan opsi militer kepada presiden,"
ujar seorang pejabat Pentagon, tanpa memberikan elaborasi lebih lanjut.

Pertimbangan Politik dan Strategis

Menurut laporan The Telegraph, salah satu pertimbangan utama dalam penyusunan opsi serangan adalah keinginan Trump untuk menunjukkan kemajuan nyata dalam konflik dengan Iran menjelang pemilu sela. Pendukung rencana ini di lingkaran pemerintahan Trump berpendapat bahwa operasi militer dapat memberikan persepsi kemenangan strategis sebelum hari pemungutan suara.

Namun, rencana ini juga mengandung risiko politik signifikan. Serangan sebelum pemilu dikhawatirkan dapat menjadi bumerang bagi Partai Republik, yang menghadapi persaingan ketat untuk mempertahankan kursi di Kongres. Perang dengan Iran telah berkontribusi pada kenaikan inflasi dan harga bahan bakar, yang dapat mempengaruhi sentimen pemilih.

Target dan Skala Operasi

Salah satu kemungkinan target yang disebut dalam laporan CENTCOM adalah industri energi Iran. Pentagon juga telah menyusun opsi operasi pasca-pemilu, termasuk kemungkinan serangan tambahan terhadap sektor energi negara tersebut.

Sejumlah penasihat Trump dilaporkan mendukung penundaan serangan hingga setelah pemilu. Mereka mengkhawatirkan pertempuran baru, terutama jika mengakibatkan korban jiwa tentara AS, justru dapat merugikan kandidat Partai Republik dalam pemilu.

Serangan baru juga berisiko menghabiskan lebih banyak persediaan amunisi AS dan membuka kemungkinan serangan balasan Iran terhadap sekitar 50.000 personel militer Amerika yang ditempatkan di Timur Tengah, serta sekutu Washington di kawasan Teluk.

Komunikasi Melalui Perantara

Meskipun rencana serangan tengah disusun, Washington dan Teheran masih berkomunikasi melalui saluran perantara. Namun, kedua belah pihak masih memiliki perbedaan pandangan mengenai gencatan senjata, blokade AS, dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Perselisihan juga berlanjut terkait program nuklir Iran. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa kesepakatan dengan Teheran harus mencakup pengurangan konkret kapasitas pengayaan uranium Iran. Sementara itu, seorang pejabat senior Iran menegaskan bahwa tuntutan nuklir Washington bertentangan dengan posisi Teheran, dengan pengakuan terhadap hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium tetap menjadi garis merah.

Perbedaan dengan Pernyataan Sebelumnya

Rencana serangan sebelum pemilu ini berbeda dengan sejumlah pernyataan Trump sebelumnya. Dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 22 September, Trump menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan dengan Iran dapat tercapai segera setelah pemilu. Jika kesepakatan tidak tercapai, ia mengancam akan

"memusnahkan Republik Islam"
.

Kemudian, dalam wawancara dengan majalah Time pada 1 Oktober, Trump mengatakan AS dapat membombardir Iran setelah pemilu. Ia juga mengklaim bahwa AS telah menimbun persediaan militer selama enam bulan terakhir.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada The Atlantic bahwa Trump memiliki semua opsi yang tersedia kapan saja, tetapi tidak memberikan penjelasan spesifik mengenai kapan kemungkinan serangan akan dilakukan.

Perang UkrainaDonald Trump
← Kembali ke Global

Berita lainnya