Respons Presiden Lee Jae-myung
Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung mengungkapkan kekecewaannya secara terbuka setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky membocorkan informasi sensitif tentang pengiriman tawanan perang asal Korea Utara ke Korea Selatan dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu, 23 September 2026.
Pengungkapan tersebut dinilai melanggar perjanjian kerahasiaan yang telah disepakati oleh Seoul dan Kyiv sebelumnya. Langkah ini juga memicu kritik tajam dari kubu oposisi politik Korea Selatan yang menganggap pemerintahan Lee gagal menjaga kerahasiaan informasi strategis.
Lee Jae-myung menyampaikan kekecewaannya melalui platform X pada Kamis, 24 September 2026. Ia menegaskan bahwa masalah pemindahan tawanan perang merupakan isu yang sangat sensitif dengan dampak besar terhadap geopolitik kawasan.
Saya tidak tahu mengapa pihak Ukraina melanggar perjanjian dan memublikasikan masalah ini, tetapi hal itu sangat mengecewakan. Masalah membawa tawanan Korea Utara ke Korea Selatan adalah hal sangat sensitif yang dapat berdampak besar pada diplomasi, keamanan, dan situasi di Semenanjung Korea.
Lee menjelaskan bahwa sebelumnya terdapat desakan untuk memublikasikan kedatangan para tentara Korea Utara. Namun, kedua negara sepakat untuk merahasiakannya demi menekan risiko keamanan yang mungkin timbul.
Pembelaan dari Pihak Ukraina
Ajudan Presiden Zelensky, Dmytro Lytvyn, membela keputusan pemimpin Ukraina tersebut dengan menyatakan bahwa tindakan itu sejalan dengan prinsip keterbukaan negara mereka.
Dari keseluruhan cerita—yang panjang dan terperinci—kami hanya melaporkan faktanya saja, yaitu bahwa mereka dikirim ke Republik Korea.
Ia menambahkan bahwa Ukraina adalah "negara yang terbuka", sehingga akan terasa aneh jika menyerahkan para tentara tersebut secara diam-diam tanpa transparansi kepada publik internasional.
Latar Belakang Penangkapan Tentara Korea Utara
Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB, Presiden Zelensky mengungkapkan bahwa Ukraina telah mengirim dua tentara Korea Utara ke Korea Selatan. Ia menyebutkan bahwa kedua prajurit tersebut tidak mudah ditangkap dalam keadaan hidup.
Kedua tentara Korea Utara itu ditangkap oleh pasukan Ukraina pada awal tahun lalu. Mereka merupakan bagian dari pasukan Pyongyang yang dikirim untuk bertempur membela Rusia dalam perang di Ukraina.
Terkait status hukum para tawanan, anggota parlemen Korea Selatan sempat mengungkapkan bahwa kedua tentara itu mengaku menjalani kehidupan normal di Korea Selatan.
Status Hukum Tawanan
Pejabat Korea Selatan menegaskan bahwa berdasarkan konstitusi negara mereka, seluruh warga yang tinggal di Semenanjung Korea—termasuk warga Korea Utara—dianggap sebagai warga negara Korea Selatan.
Ketentuan hukum ini berlaku pula bagi setiap tentara Korea Utara yang ditangkap di Ukraina, yang secara otomatis diperlakukan sebagai warga negara Korea Selatan setelah tiba di wilayah tersebut.












