Iran Perluas Pengaruh Lewat Houthi di Laut Merah, Kurangi Ketergantungan pada Selat Hormuz
Iran dinilai berhasil memperluas pengaruhnya dalam konflik melawan Amerika Serikat setelah kelompok sekutunya melancarkan serangkaian serangan yang memperluas konflik di Timur Tengah. Jalur ekspor minyak dari kawasan tersebut kini semakin terbatas dan harga energi melonjak tajam, memberikan Teheran ruang untuk memperkuat dominasinya di kawasan.
"Keberhasilan Houthi di Yaman telah mengembalikan keseimbangan kekuatan ke pihak Iran," ujar Gregory Brew, analis senior di Eurasia Group.
Menurutnya, Iran telah berhasil mengubah status quo tanpa menyebabkan kembalinya perang skala penuh yang kemungkinan besar tidak diinginkan rezim saat ini.
Houthi Kuasai Pulau Strategis di Laut Merah
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran merebut sebuah pulau di Laut Merah pada Jumat (11/9/2026). Langkah itu memberi mereka pijakan untuk mengganggu jalur pelayaran penting bagi pengiriman minyak dari Timur Tengah.
Iran memang mendukung Houthi dengan senjata, uang tunai, dan logistik. Namun, para analis menilai kelompok tersebut bukan sekadar saluran langsung kepentingan Iran di Yaman dan juga tidak sepenuhnya independen dari pengaruh Teheran.
Akibat gangguan di jalur pelayaran, harga minyak sempat mencapai sekitar 110 dolar AS per barel pada Jumat, sekitar 50 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum perang. Kenaikan harga energi tersebut berpotensi menimbulkan tekanan politik bagi Presiden AS Donald Trump menjelang pemilu sela pada November.
Arab Saudi dan AS Terdampak
Arab Saudi turut merasakan dampak serius dari serangan-serangan tersebut. Ekspor minyak negara itu anjlok bulan lalu ke level terendah dalam sedikitnya 13 tahun. Sebuah pipa menuju pelabuhan Laut Merah Saudi juga ditutup sementara setelah serangan pesawat tak berawak dari wilayah Irak.
Ketidakmampuan AS memberikan jaminan keamanan penuh membuat Riyadh berada dalam posisi sulit. Trump mengaku enggan melancarkan operasi militer baru melawan Houthi di Yaman, mengutip klaim bahwa milisi tersebut tidak menginginkan pertempuran langsung dengan Washington.
Di sisi lain, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah kondisi sebelum perang. Sejumlah kecil kapal baru dapat melintas dengan bantuan pengawalan angkatan laut AS.
Situasi ini menunjukkan bahwa Iran kini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Selat Hormuz sebagai satu-satunya titik strategis untuk memproyeksikan kekuatannya. Dengan memanfaatkan sekutu seperti Houthi di Laut Merah dan kelompok-kelompok bersenjata di Irak, Teheran telah berhasil menciptakan jalur-jalur baru untuk menekan lawan-lawannya dan memperluas pengaruh regionalnya.












