Iran Klaim Rebut Drone Bawah Laut AS di Selat Hormuz
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Selasa (8/9/2026) mengumumkan berhasil menyita sebuah drone bawah laut milik Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz. Pihak Iran menggambarkan operasi tersebut sebagai aksi intelijen dan operasional yang kompleks, serta menyebut perangkat yang disita sebagai salah satu kapal selam nirawak paling modern yang dioperasikan pasukan AS.
Komando Pusat AS (CENTCOM) memberikan klarifikasi berbeda. Juru Bicara CENTCOM Kapten Tim Hawkins menyatakan drone bawah laut yang dioperasikan pasukan AS mengalami kerusakan teknis lebih dari sehari sebelumnya. Perangkat tersebut sedang melakukan survei perairan regional untuk mendukung operasi yang sedang berlangsung.
Hawkins tidak mengonfirmasi apakah Iran benar-benar telah menyita perangkat tersebut. Namun, dia menegaskan bahwa unit yang bermasalah bukanlah drone rahasia berteknologi tinggi.
Drone yang rusak tersebut merupakan model lama yang tidak mengumpulkan data sensitif, serta tidak membawa peralatan sonar atau radar terklasifikasi, ujar Hawkins.
Spesifikasi Teknis Drone
Meskipun CENTCOM tidak merinci jenis drone yang dimaksud, perangkat Anduril Dive-LD yang pertama kali diserahkan kepada Skuadron Kendaraan Bawah Laut Nirawak 1 Angkatan Laut AS pada April 2025 memiliki spesifikasi yang mengesankan. Drone ini berukuran panjang sekitar 5,8 meter dengan berat 2,7 hingga 3 ton, mampu beroperasi secara otonom hingga 10 hari, dan dapat mencapai kedalaman 6.000 meter.
Iran memiliki sejarah panjang dalam menangkap aset militer AS. Selama dekade terakhir, pasukan Iran berhasil merebut atau menangkap beberapa pesawat nirawak AS, termasuk drone siluman RQ-170 Sentinel, drone MQ-9 Reaper, dan berbagai glider bawah laut. Perangkat-perangkat tersebut dilaporkan telah direkayasa balik untuk mengembangkan program drone domestik Iran.
Eskalasi di Perairan Strategis
Insiden ini terjadi di tengah ketegangan tinggi di Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang pada 2025 dilalui sekitar 25 persen perdagangan minyak laut dunia dan 19 persen ekspor gas alam cair (LNG) global. Selat yang lebarnya hanya 21-22 mil laut di titik tersempit ini, dengan jalur pelayaran efektif hanya selebar dua mil per arah, telah menjadi arena konfrontasi sejak pecahnya konflik pada akhir Februari 2026.
Iran terus mempertahankan blokade di Selat Hormuz sejak dimulainya perang, sementara AS juga memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Blokade AS pertama kali diberlakukan dari 13 April hingga 18 Juni 2026, kemudian diberlakukan kembali mulai 14 Juli 2026 dan masih berlangsung hingga saat ini.
Upaya deeskalasi pernah dilakukan dengan gencatan senjata di awal April 2026 dan penandatanganan memorandum kesepahaman pada Juni 2026 yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, kesepakatan tersebut runtuh pada awal Juli setelah terjadi serangan terhadap kapal komersial.
Serangan Balistik Mendahului Insiden
Penyitaan drone terjadi hanya tiga hari setelah eskalasi militer signifikan pada 5 September 2026, ketika IRGC menembakkan rudal balistik ke arah kapal induk dan kapal perusak AS. Kedua kapal AS berhasil menghindari serangan tanpa korban jiwa, namun CENTCOM merespons dengan menghancurkan tiga kapal tanker minyak Iran sebagai pembalasan.
Menurut data Organisasi Maritim Internasional (IMO), setidaknya 70 serangan terhadap pelayaran internasional telah terjadi sejak 28 Februari 2026, menewaskan 19 pelaut dan menyebabkan sekitar 6.000 pelaut terdampar di kawasan Teluk Persia.
Konflik yang bermula dengan serangan udara terkoordinasi AS-Israel pada 28 Februari 2026 ini terus berkembang menjadi konfrontasi maritim yang melibatkan blokade timbal balik, serangan terhadap kapal komersial, dan kini penyitaan atau kerusakan aset militer bawah laut. Insiden drone terbaru menambah daftar panjang ketegangan di salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia.












