Timur Tengah

2 menit baca

Maya Kartika

Mantan Presiden Iran Rouhani Usulkan Referendum Perang, Dikecam Kelompok Garis Keras

Hassan Rouhani menyerukan agar rakyat Iran menentukan kelanjutan perang dengan AS melalui pemungutan suara. Usulan ini mendapat kecaman keras dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan kelompok garis keras.

60e591c66e34a.jpg

Mantan Presiden Iran Rouhani Usulkan Referendum Perang, Dikecam Kelompok Garis Keras

Mantan Presiden Iran Hassan Rouhani mengusulkan agar rakyat Iran dilibatkan dalam menentukan apakah konflik dengan Amerika Serikat akan dilanjutkan atau diakhiri. Seruan kontroversial ini disampaikan dalam pertemuan dengan sejumlah mantan gubernur provinsi dan langsung memicu reaksi keras dari kelompok garis keras di negara tersebut.

Pengamat politik menafsirkan pernyataan Rouhani sebagai seruan untuk menggelar referendum nasional mengenai masa depan perang. Menurut Rouhani, tujuan dan kepentingan nasional Iran harus terlebih dahulu diperjelas sebelum disampaikan kepada masyarakat untuk memutuskan arah kebijakan negara.

Hal yang sangat penting adalah kerangka tujuan nasional kita jelas bagi kita terlebih dahulu, kemudian kita sampaikan kepada rakyat. Kita katakan kepada rakyat: rencana kita adalah berperang melawan kekuatan-kekuatan besar dunia selama 20 tahun lagi. Jika rakyat mengatakan mereka menerimanya, sangat baik, mari kita lanjutkan. Tetapi jika rakyat tidak menerimanya dan menunjukkan jalan lain kepada kita, apakah kita tidak ingin menerimanya?

Rouhani juga menegaskan bahwa penghentian perang perlu dilakukan secara terhormat apabila sejalan dengan kehendak mayoritas rakyat Iran. Ia menilai kelanjutan konflik harus mempertimbangkan kemampuan Iran untuk memperbaiki kerusakan ekonomi, memberikan harapan kepada investor, serta membuka peluang bagi generasi muda.

Kritik terhadap Dominasi Suara Garis Keras

Dalam pernyataannya, Rouhani mengkritik kelompok kecil yang menurutnya mendominasi wacana publik namun tidak mewakili mayoritas masyarakat Iran. Ia menyebut bahwa kelompok yang saat ini paling vokal tidak dapat dianggap sebagai suara mayoritas rakyat.

Sebagian kecil yang sekarang memegang pengeras suara dan membuat keributan bukanlah mayoritas masyarakat Iran.

Rouhani juga menyoroti lembaga penyiaran negara Iran yang menurutnya telah didominasi oleh kelompok garis keras dan suara-suara militer. Ia memperingatkan bahwa lembaga penyiaran nasional yang berubah menjadi pusat perpecahan akan kehilangan kepercayaan publik, dari tingkat presiden hingga masyarakat biasa.

Reaksi Keras dari Kelompok Garis Keras

Pernyataan Rouhani langsung mendapat tentangan keras dari kelompok garis keras dan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Kelompok-kelompok ini selama ini menjadi pendorong utama kebijakan konfrontasi dengan Washington dan menolak segala bentuk kompromi atau negosiasi yang dianggap melemahkan posisi Iran.

Kelompok garis keras menilai usulan Rouhani sebagai bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita revolusi dan perlawanan terhadap hegemoni Barat. IRGC, yang memiliki pengaruh besar dalam politik dan ekonomi Iran, mengecam keras ide referendum yang dianggap dapat melemahkan semangat juang rakyat Iran.

Perdebatan ini mencerminkan perpecahan internal dalam elit politik Iran mengenai strategi menghadapi tekanan ekonomi dan militer dari Amerika Serikat. Sementara kelompok reformis dan moderat menginginkan jalan diplomasi dan penyelesaian damai, faksi konservatif dan militer tetap mengedepankan perlawanan dan penolakan terhadap tekanan Barat.

Donald Trump
← Kembali ke Timur Tengah

Berita lainnya