Turkiye Mengecam Keras Serangan Israel
Israel melancarkan delapan serangan udara terhadap Pangkalan Udara Abu al-Duhur di barat laut Suriah pada Selasa, 18 Agustus 2026, memicu ketegangan diplomatik dengan Turkiye dan kecaman dari Amerika Serikat. Serangan tersebut menandai eskalasi baru dalam konflik regional yang melibatkan tiga negara.
Media pemerintah Suriah, Ekhbariya, melaporkan jet tempur Israel menghantam landasan pacu dan fasilitas penyimpanan di pangkalan yang terletak sekitar 70 kilometer timur perbatasan Turkiye. Pangkalan Abu al-Duhur telah tidak beroperasi sebagai fasilitas militer penuh sejak 2013 dan beberapa kali berpindah tangan selama perang saudara Suriah antara pasukan Assad dan faksi oposisi.
Turkiye Mengecam Keras Serangan Israel
Kementerian Luar Negeri Turkiye mengeluarkan pernyataan keras yang mengecam tindakan Israel sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap persatuan dan integritas wilayah Suriah.
Kami menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengambil sikap yang lebih tegas guna mengakhiri eskalasi agresi Israel yang terus meningkat terhadap Suriah.
Ankara sebelumnya telah berulang kali menuduh Israel sengaja berusaha memprovokasi stabilitas Suriah dan mengikis pemerintahan barunya yang dipimpin oleh Presiden Sementara Ahmed al-Sharaa. Pemerintahan transisi Suriah dibentuk pada Maret 2025 setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024.
Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan pada 6 Agustus sempat memperingatkan bahwa agresi berulang Israel terus mengancam keamanan Suriah. Turkiye sendiri telah memberikan dukungan militer kepada pemerintahan baru Suriah, termasuk pelatihan, perencanaan operasional, dan bantuan logistik, sebagaimana dikonfirmasi oleh Menteri Pertahanan Turkiye Yaşar Güler pada Februari 2026.
Israel Beralasan Kehadiran Militer Turkiye
Pihak Israel membela tindakannya dengan mengklaim bahwa Suriah telah mengizinkan penempatan tentara Turkiye di Pangkalan Abu al-Duhur, yang menurut Israel berada di ambang batas pelanggaran kesepakatan status quo keamanan.
Israel berulang kali memperingatkan Suriah bahwa penempatan semacam itu akan menimbulkan ancaman bagi keamanan Israel. Suriah memilih untuk mengabaikan peringatan ini.
Israel tidak akan menoleransi ancaman terhadap keamanannya.
Namun, pihak Turkiye dalam pernyataan resminya tidak mengonfirmasi apakah tentara mereka benar-benar berada di pangkalan Abu al-Duhur saat serangan terjadi.
Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani mengonfirmasi bahwa perwira militer Turkiye memang mengunjungi pangkalan tersebut sebagai bagian dari kerja sama militer yang sedang berlangsung antara Suriah dan Turkiye. Namun, al-Shaibani membantah adanya penumpukan militer Turkiye, menyatakan bahwa fasilitas tersebut sebagian besar masih kosong dan belum sepenuhnya beroperasi kembali.
Amerika Serikat Mengecam Serangan
Serangan udara ini juga menuai kritik tajam dari Amerika Serikat. Tom Barrack, Utusan Khusus AS untuk Suriah dan Irak sekaligus Duta Besar AS untuk Turkiye, menyebut pengeboman tersebut sebagai langkah yang merusak stabilitas kawasan. Barrack, yang menjabat dalam peran ganda sejak Mei 2025, memiliki posisi unik yang mencakup ketiga negara yang terlibat dalam insiden ini.
Serangan 18 Agustus menandai serangan Israel pertama terhadap aset pemerintah Suriah sejak Maret 2026, yang menunjukkan pergeseran target dari Suriah selatan dan tengah ke fasilitas barat laut. Sejak Desember 2024, Israel telah melakukan ratusan serangan udara di seluruh Suriah, menghancurkan sebagian besar infrastruktur militer negara itu termasuk bandara, fasilitas pertahanan udara, dan jet tempur, dengan rata-rata satu serangan setiap tiga hingga empat hari hingga pertengahan 2025.
Israel juga telah menduduki wilayah di dalam Suriah melampaui garis penarikan tahun 1974 sejak Desember 2024, mendirikan setidaknya sembilan posisi militer di zona penyangga. Israel awalnya menyatakan invasi baru ini akan bersifat sementara, tetapi kemudian menyatakan akan menguasai wilayah tersebut tanpa batas waktu.
Meskipun terjadi ketegangan publik, Turkiye dan Israel telah mengoperasikan saluran dekonfliktasi militer di Suriah sejak 2025 untuk mencegah bentrokan tak sengaja antara pasukan mereka di wilayah tersebut. Namun, serangan terbaru ini menunjukkan bahwa mekanisme komunikasi tersebut belum cukup untuk mencegah eskalasi konflik di lapangan.












