Rights Issue, GMF Aero Bakal Terbitkan 22,02 Miliar Saham
PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) atau GMF AeroAsia akan melaksanakan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) III atau rights issue ketiga. Perseroan berencana menerbitkan maksimal 22.029.751.488 saham seri B dengan nilai nominal Rp 19 per saham dalam aksi korporasi ini.
Menurut keterbukaan informasi yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (14/10/2026), dana hasil rights issue akan digunakan untuk tiga tujuan utama. Pertama, memperkuat kapasitas pendanaan dan memenuhi ketentuan free float sesuai Peraturan BEI Nomor I-A. Kedua, mendukung investasi dan pengembangan usaha perseroan. Ketiga, mengoptimalkan struktur pendanaan serta penguatan modal kerja.
Langkah ini menjadi semakin mendesak mengingat porsi saham publik GMF saat ini hanya mencapai 6,52 persen per akhir Mei 2026. Angka tersebut masih jauh dari persyaratan regulasi baru yang ditetapkan BEI melalui Peraturan I-A yang dikeluarkan pada 31 Maret 2026. Regulasi baru tersebut menaikkan ambang batas minimum free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen, dengan jadwal kepatuhan bertahap yang mewajibkan emiten mencapai 12,5 persen pada Maret 2027 dan 15 persen penuh setelahnya.
Struktur Kepemilikan dan Latar Belakang
Rendahnya free float GMF saat ini merupakan dampak dari transaksi inbreng aset yang terjadi pada Desember 2025. Dalam transaksi tersebut, PT Angkasa Pura Indonesia (API) menyetorkan lahan seluas 972.123 meter persegi di Bandara Soekarno-Hatta dengan nilai Rp 5,665 triliun. Akibatnya, API menjadi pemegang saham terbesar GMF dengan kepemilikan 65,77 persen, sementara kepemilikan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk terdilusi menjadi sekitar 27,44 persen.
GMF AeroAsia sendiri merupakan anak perusahaan yang berakar dari divisi teknik Garuda Indonesia yang didirikan pada 1949. Perusahaan ini kemudian dipisahkan menjadi entitas independen pada Agustus 2002 dan tercatat di BEI sejak 2017 dengan kode saham GMFI. Saat ini, GMF melayani lebih dari 190 pelanggan di lebih dari 60 negara dan mengoperasikan Hangar 4 di Bandara Soekarno-Hatta, salah satu hangar pesawat narrow-body terbesar di Asia yang dibangun pada pertengahan 2010-an.
Rencana Penggunaan Dana
Perseroan merinci bahwa dana dari rights issue akan dialokasikan untuk beberapa keperluan strategis. Pertama, pengembangan atau ekspansi usaha baik langsung maupun tidak langsung melalui perusahaan anak, meliputi pendanaan kebutuhan investasi berupa pengembangan dan penambahan kapasitas serta kapabilitas, peremajaan peralatan dan mesin, pendirian perusahaan baru, dan pembelian aset yang memberikan manfaat tambahan serta mendukung kegiatan usaha perseroan dan anak usaha.
Kedua, tambahan modal kerja dalam rangka kegiatan operasional perusahaan. Alokasi ini diharapkan dapat memberikan fleksibilitas pendanaan dalam mendukung pengembangan usaha dan kebutuhan operasional secara berkelanjutan.
Dalam laporan keuangan tahun 2024 yang diungkapkan pada Juni 2025, GMF mencatatkan pendapatan operasional USD 421,22 juta dan laba bersih USD 26,90 juta. Segmen penerbangan komersial menyumbang 75,4 persen dari total pendapatan perseroan.
Jadwal dan Ketentuan Rights Issue
Bagi pemegang saham yang tidak menggunakan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) yang diperolehnya akan mengalami dilusi atas persentase kepemilikan saham maksimal 15 persen apabila seluruh HMETD yang diterbitkan perseroan dilaksanakan oleh pemegang HMETD yang berhak.
Harga pelaksanaan rights issue akan ditetapkan dan diumumkan dalam prospektus PMHMETD III dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk POJK Nomor 32/POJK.04/2015 tentang Penambahan Modal Perusahaan Terbuka Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu dan Peraturan BEI Nomor I-A. POJK 32/2015 yang dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Desember 2015 mengatur prosedur, dokumen yang diperlukan, dan jadwal rinci untuk pelaksanaan rights issue perusahaan publik.
Untuk melaksanakan aksi korporasi ini, perseroan akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Kamis, 19 November 2026.
Strategi Pemenuhan Free Float
Sebelumnya, Direktur Utama GMF Andi Fahrurrozi telah mengungkapkan bahwa perseroan tengah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memenuhi ketentuan free float sebelum tenggat waktu pada Maret 2027. Perusahaan mengkaji dua skema utama untuk meningkatkan free float: pelepasan sebagian kepemilikan saham oleh pemegang saham eksisting kepada publik, atau pelaksanaan rights issue.
Perseroan saat ini tengah berkoordinasi intensif dengan pemegang saham utama, termasuk PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan Danantara, terkait mekanisme yang akan ditempuh. Keputusan final akan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kepentingan perusahaan, pemegang saham, hingga kepatuhan terhadap regulasi pasar modal.
GMF menegaskan komitmennya untuk memenuhi ketentuan free float sesuai jadwal yang ditetapkan regulator. Dengan persiapan yang dilakukan lebih awal, perseroan optimistis proses penyesuaian struktur kepemilikan saham dapat berjalan lancar dan mendukung pengembangan usaha jangka panjang.












