Energi

3 menit baca

Andi Wijaya

Bali Terapkan Sistem Ganjil-Genap untuk Pengisian Pertalite Mulai Sabtu

Pertamina Patra Niaga mendukung penuh kebijakan ganjil-genap pengisian BBM Pertalite di Bali yang berlaku 17-19 Oktober 2026, dengan dukungan 100 personel TNI dan patwal Polda Bali untuk mempercepat pemulihan pasokan.

lake-1c63b194-8d7c-42f8-a0fb-5517456475e3-0.jpg

Mulai Hari Ini, Pengisian BBM di Bali Diberlakukan Ganjil Genap

Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus mulai Sabtu (17/10/2026) menerapkan kebijakan ganjil-genap untuk pengisian bahan bakar minyak jenis Pertalite di seluruh Provinsi Bali. Kebijakan yang akan berlangsung hingga Senin (19/10/2026) ini mengacu pada Surat Gubernur Bali Nomor B.21.500.1/16673/V/DISNAKER.ESDM.

Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi menyatakan bahwa langkah ini bertujuan mempercepat pemulihan layanan BBM di Bali. Untuk mendukung pelaksanaan kebijakan tersebut, Pertamina mendapat dukungan 100 personel TNI Kodam IX/Udayana yang akan bertugas sebagai operator SPBU pada malam hari, serta pengawalan dari patwal Polda Bali untuk kelancaran distribusi mobil tangki ke SPBU.

Penerapan sistem ganjil-genap ini berlaku untuk semua jenis kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Upaya ini merupakan bagian dari strategi komprehensif yang meliputi penguatan pasokan, perpanjangan jam operasional SPBU, serta peningkatan kesiapan armada dan personel.

Krisis BBM yang Melanda Bali

Kelangkaan bahan bakar di Bali dimulai pada Minggu, 11 Oktober 2026, dipicu oleh lonjakan konsumsi rata-rata Pertalite yang mencapai sekitar 2.200 kiloliter per hari. Krisis ini diperparah oleh gangguan teknis pada kapal tanker yang dijadwalkan berlabuh pada pukul 6:30 pagi tanggal 12 Oktober. Masalah pada jangkar kapal menyebabkan proses pembongkaran baru dapat diselesaikan sekitar pukul 22:00 malam hari yang sama, mengakibatkan penundaan distribusi yang signifikan.

Dampak kelangkaan terasa di berbagai SPBU di Bali. Beberapa stasiun pengisian bahan bakar melaporkan menerima pasokan 30-40% lebih sedikit dari biasanya, dengan pengurangan mencapai 50% di Kabupaten Tabanan. Situasi ini memicu antrean panjang di SPBU yang bahkan mencapai lebih dari satu kilometer.

Kelangkaan BBM tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat lokal, tetapi juga sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Bali. Kawasan wisata populer seperti Uluwatu, Ubud, dan Kintamani terdampak signifikan. Para pengemudi jip yang melayani wisatawan untuk tur matahari terbit di Gunung Batur melaporkan kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk mengoperasikan kendaraan wisata mereka.

Ketidakpuasan masyarakat memuncak pada Kamis, 15 Oktober 2026, ketika ratusan demonstran turun ke jalan memprotes kelangkaan bahan bakar. Aksi protes ini mencerminkan frustrasi publik terhadap antrean panjang yang berlangsung berjam-jam di berbagai SPBU.

Akar Masalah dan Respons Pemerintah

Pejabat pemerintah menegaskan bahwa kelangkaan ini disebabkan oleh masalah distribusi domestik—kombinasi dari gangguan teknis, cuaca buruk, dan lonjakan permintaan—bukan karena kekurangan pasokan bahan bakar atau gejolak di pasar energi global. Bali sangat bergantung pada bahan bakar yang tiba melalui laut, dengan pengiriman yang dialihkan melalui terminal bahan bakar Manggis dan Pesanggaran, membuat pulau ini rentan terhadap gangguan rantai pasokan maritim.

Konteks tambahan yang perlu dipertimbangkan adalah penyelenggaraan event MotoGP Indonesia di Mandalika, Lombok pada 9-11 Oktober 2026, di mana Pertamina meningkatkan pasokan bahan bakar di Lombok hingga 30% untuk memenuhi permintaan ekstra selama acara berlangsung.

Pemerintah Indonesia telah menjamin harga bahan bakar bersubsidi Pertalite tetap tidak berubah pada Rp10.000 (sekitar $0,60) per liter hingga Desember 2026, meskipun harga minyak mentah global meningkat. Kebijakan ini merupakan bagian dari komitmen fiskal yang besar, dengan anggaran negara 2026 mengalokasikan Rp210,1 triliun ($11,83 miliar) untuk subsidi energi, sementara total dukungan untuk sektor energi termasuk pembayaran kompensasi mencapai Rp381,3 triliun.

Dengan penerapan sistem ganjil-genap dan dukungan tambahan dari TNI dan Polri, Pertamina optimis dapat mempercepat normalisasi distribusi BBM di Bali dalam beberapa hari ke depan.

Pariwisata IndonesiaPertamina
← Kembali ke Energi

Berita lainnya