Tata Kota

3 menit baca

Fajar Nugroho

Indonesia dan China Jajaki Kerja Sama Teknologi Rusun untuk Atasi Defisit Perumahan

Pemerintah Indonesia dan China memperdalam kolaborasi di sektor perumahan, fokus pada teknologi pembangunan rusun untuk kawasan padat penduduk. Kerja sama mencakup penyediaan lahan, pembiayaan, dan transfer teknologi dengan prioritas penggunaan material serta tenaga kerja lokal.

6aa23338d689c.jpg

Indonesia dan China Jajaki Kerja Sama Teknologi Rusun untuk Atasi Defisit Perumahan

Pemerintah Indonesia dan China tengah memperkuat kolaborasi di bidang perumahan, dengan fokus pada pemanfaatan teknologi konstruksi untuk pembangunan rumah susun di kawasan berpenduduk padat. Kerja sama ini diarahkan untuk menjawab tantangan defisit perumahan yang mencapai 9,6 juta unit menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional 2025, sekaligus mendukung arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengoptimalkan penggunaan lahan melalui pengembangan hunian vertikal.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait bertemu dengan Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia Wang Lutong di Kediaman Duta Besar RRT, Jakarta, pada Rabu (9/9/2026). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari diskusi awal yang telah berlangsung sekitar dua bulan sebelumnya, ketika Menteri Perumahan dan Pembangunan Perkotaan-Pedesaan China Ni Hong mengunjungi Jakarta pada 29 Juli 2026 untuk memulai pembahasan kerja sama strategis di sektor perumahan.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas tiga area kerja sama utama: penyediaan lahan, mekanisme pembiayaan, dan transfer teknologi. Fokus utama diarahkan pada pembangunan hunian terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah, sejalan dengan Program 3 Juta Rumah yang diluncurkan pemerintahan Prabowo dengan alokasi anggaran Rp 58 triliun dari APBN 2026. Program ambisius ini menargetkan pembangunan 2 juta rumah tapak di daerah pedesaan dan pesisir, serta 1 juta unit hunian vertikal di pusat-pusat perkotaan setiap tahunnya.

Ara, sapaan Maruarar Sirait, menegaskan bahwa kerja sama Indonesia-China akan berlandaskan prinsip saling percaya dan menguntungkan kedua negara.

Ini kita tindak lanjuti pertemuan sekitar dua bulan lalu. Kita membicarakan kerja sama di bidang perumahan dengan prinsip saling percaya, saling menguntungkan dan memberikan dampak positif bagi kedua negara.

Teknologi Konstruksi Modular dari China

Teknologi yang akan diterapkan tidak akan ditentukan secara sepihak, melainkan melalui proses kajian mendalam terlebih dahulu. Pihak China akan mempelajari karakteristik lahan yang tersedia serta regulasi yang berlaku di Indonesia, termasuk Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun yang mengatur bangunan bertingkat dengan bagian-bagian fungsional yang dapat dimiliki secara terpisah, dengan kategori khusus untuk rusun umum bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

China memiliki pengalaman dalam pengembangan teknologi konstruksi modular untuk perumahan terjangkau yang mampu memangkas waktu pembangunan hingga 50 persen, dengan tingkat prefabrikasi pabrik melebihi 90 persen dan pengurangan emisi karbon mencapai 75 persen. Teknologi ini berpotensi menjadi solusi untuk mempercepat penyediaan hunian vertikal di Indonesia, terutama mengingat kondisi pasar properti domestik yang mengalami perlambatan tajam pada kuartal pertama 2026, dengan penjualan residensial turun 25,7 persen secara tahunan dan kontraksi 45,6 persen pada segmen rumah tipe kecil yang menyasar kelompok berpenghasilan rendah hingga menengah.

Sesudah pihak Tiongkok mempelajari lahan dan regulasi, baru kita tentukan teknologi apa yang cocok.

Pendekatan ini memastikan bahwa teknologi yang diterapkan tidak hanya unggul dari sisi efisiensi konstruksi, tetapi juga sesuai dengan kondisi geologi tanah Indonesia dan kerangka regulasi yang berlaku.

Prioritas Material dan Tenaga Kerja Lokal

Kementerian PKP menegaskan komitmen untuk melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dalam negeri serta memprioritaskan penggunaan material lokal yang memenuhi standar. Tenaga kerja Indonesia juga akan menjadi prioritas dalam pelaksanaan proyek pembangunan rusun. Langkah ini diharapkan dapat membuka peluang ekonomi bagi sektor usaha lokal sekaligus menciptakan lapangan kerja, sambil memastikan transfer pengetahuan dan keterampilan teknologi konstruksi kepada tenaga kerja Indonesia.

Kerja sama perumahan Indonesia-China ini merupakan bagian dari hubungan bilateral yang telah berlangsung selama 76 tahun pada 2026, dengan lebih dari 4.000 warga Indonesia telah mengikuti program pelatihan dan kunjungan studi ke China dalam dua dekade terakhir. Kolaborasi di sektor perumahan menambah rangkaian kerja sama di berbagai bidang termasuk transfer teknologi dan infrastruktur yang terus berkembang antara kedua negara.

Dengan defisit perumahan yang masih tinggi dan kebutuhan mendesak akan hunian terjangkau di kawasan perkotaan padat, kerja sama teknologi rusun ini diharapkan dapat menjadi solusi konkret untuk mempercepat penyediaan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah di Indonesia.

UMKMPrabowo SubiantoTiongkok
← Kembali ke Tata Kota

Berita lainnya