Guru Besar UGM Usulkan Transformasi Strategi Pencegahan Karhutla dengan Tiga Pendekatan Baru
Ketua Umum Masyarakat Agroforestri Indonesia (MAFI) sekaligus Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Prof. Priyono Suryanto, S.Hut., M.P., Ph.D., mengajukan tiga transformasi strategis untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Transformasi pertama yang diusulkan Priyono adalah mengubah pendekatan dari ekosistem gotong royong krisis menjadi ekosistem gotong royong penjagaan hutan. Menurut pengamatan ahli kehutanan ini, Indonesia sebenarnya memiliki kekuatan kelembagaan yang solid dalam menghadapi karhutla.
Berbagai institusi seperti TNI, Polri, kementerian terkait, BNPB, pemerintah daerah, Manggala Agni, komunitas masyarakat, sektor swasta, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya mampu berkoordinasi dengan baik ketika kebakaran terjadi. Modal sosial dan kelembagaan ini merupakan aset berharga bagi bangsa.
Namun demikian, Priyono mengidentifikasi kelemahan mendasar dalam sistem yang ada. Kekuatan gotong royong tersebut lebih menonjol sebagai mekanisme respons terhadap krisis, bukan sebagai sistem pencegahan sebelum bencana melanda.
Gotong royong Indonesia kuat sebagai respons, tetapi belum cukup kuat sebagai struktur penjagaan. Solidaritas kelembagaan mencapai puncaknya ketika kebakaran terjadi, tetapi belum selalu bertahan dengan kekuatan yang sama ketika hutan sedang tidak terbakar.
Penjagaan Berkelanjutan Lebih Penting dari Respons Krisis
Priyono menekankan bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan tidak pernah sepenuhnya hilang. Berbagai faktor seperti kondisi lahan gambut, aktivitas ekonomi, perubahan tata guna lahan, perubahan iklim, dan dinamika sosial terus menciptakan kerentanan baru. Karena itu, upaya pencegahan harus menjadi bagian dari ekosistem penjagaan yang berkesinambungan.
Ahli kehutanan ini berharap agar ekosistem penjagaan hutan tetap aktif meskipun tidak ada kejadian kebakaran. Pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, aparat keamanan, dan berbagai organisasi perlu tetap terhubung dalam satu sistem untuk memantau risiko, mengawasi perubahan bentang alam, menjaga fungsi ekologis, mengembangkan basis pengetahuan, serta melakukan intervensi dini.
Kekuatan yang biasanya muncul ketika adanya kebakaran harus tetap hidup ketika hutan sedang tidak terbakar. Disitulah pergeseran penting dari gotong royong krisis menjadi gotong-royong penjagaan hutan.
Membangun Memori Strategis Nasional
Strategi kedua yang direkomendasikan Priyono adalah mengubah pengalaman penanganan karhutla menjadi memori strategis nasional. Menurutnya, setiap kejadian kebakaran hutan dan lahan seharusnya menghasilkan peningkatan kapasitas pengetahuan dan perbaikan sistem penanganan secara berkelanjutan.
Dengan pendekatan ini, setiap peristiwa karhutla tidak hanya dilihat sebagai bencana yang harus segera ditangani, tetapi juga sebagai pembelajaran berharga yang dapat memperkuat sistem pencegahan dan penanganan di masa mendatang. Dokumentasi sistematis terhadap pola kebakaran, efektivitas metode pemadaman, dan faktor-faktor pemicu dapat menjadi basis pengembangan strategi yang lebih komprehensif.
Transformasi ketiga yang diusulkan dalam presentasinya, meskipun tidak dijelaskan secara detail dalam sumber informasi yang tersedia, diharapkan dapat melengkapi dua strategi sebelumnya untuk menciptakan sistem pengelolaan karhutla yang lebih efektif dan berkelanjutan di Indonesia.












