Lingkungan & Iklim

2 menit baca

Intan Permata

Lonjakan Titik Panas di Sumatera Capai 5.983, Sumatera Selatan Catat Angka Tertinggi

BMKG Stasiun Pekanbaru mencatat peningkatan drastis titik panas di Pulau Sumatera mencapai 5.983 titik, dengan Sumatera Selatan menyumbang 4.169 titik sebagai wilayah terparah dalam pemantauan hingga 16 September 2026.

6aa77be471301.jpg

Lonjakan Titik Panas di Sumatera Capai 5.983, Sumatera Selatan Catat Angka Tertinggi

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mengidentifikasi peningkatan dramatis aktivitas titik panas di Pulau Sumatera. Berdasarkan data pemantauan hingga pukul 07.00 WIB pada 16 September 2026, tercatat sebanyak 5.983 titik panas tersebar di berbagai provinsi.

Sumatera Selatan mencatatkan angka tertinggi dengan 4.169 titik panas, menjadikannya wilayah dengan konsentrasi terbesar. Kondisi ini mengindikasikan potensi serius terkait kebakaran hutan dan lahan yang memerlukan penanganan segera.

Distribusi Titik Panas di Wilayah Sumatera

Prakirawan BMKG Pekanbaru, Putri Santy S, merinci distribusi titik panas di provinsi-provinsi lain di Sumatera. Jambi menempati posisi kedua dengan 735 titik, diikuti Bangka Belitung sebanyak 446 titik, dan Lampung dengan 378 titik.

Sementara itu, Riau mencatat 115 titik panas, Bengkulu 74 titik, Sumatera Barat 46 titik, Sumatera Utara 14 titik, Kepulauan Riau 5 titik, dan Aceh 1 titik. Sebaran ini menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah Sumatera menghadapi ancaman kebakaran dengan tingkat keparahan berbeda.

Rincian Titik Panas di Riau

Di Provinsi Riau, titik panas terkonsentrasi di enam kabupaten/kota. Indragiri Hulu memimpin dengan 84 titik, disusul Indragiri Hilir 16 titik, Kuantan Singingi 6 titik, Pelalawan 5 titik, Rokan Hilir 2 titik, serta Dumai dan Rokan Hulu masing-masing 1 titik.

Konsentrasi titik panas di wilayah-wilayah tertentu ini menjadi perhatian khusus bagi otoritas setempat dalam upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran.

Dampak terhadap Jarak Pandang dan Kualitas Udara

Aktivitas titik panas yang tinggi berdampak langsung pada penurunan jarak pandang akibat kabut asap. Putri menyebutkan bahwa Pelalawan mengalami penurunan jarak pandang hingga 2,5 kilometer, sementara Tambang mencatat sekitar empat kilometer dengan keberadaan asap yang signifikan.

Di Pekanbaru dan Rengat, jarak pandang tercatat hanya mencapai tiga kilometer. Kondisi ini berpotensi mengganggu aktivitas transportasi darat dan udara jika tidak mengalami perbaikan dalam waktu dekat, serta berdampak pada kesehatan masyarakat setempat.

Fenomena Kiriman Asap Lintas Wilayah

Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru, Warjono, menjelaskan bahwa kabut asap yang terpantau di Riau tidak sepenuhnya berasal dari wilayah tersebut. Analisis pola angin dan citra sebaran asap menunjukkan adanya kiriman asap dari wilayah Sumatera bagian selatan.

Berdasarkan pola angin dan citra sebaran asap yang kami pantau, terdapat potensi kiriman asap dari wilayah di sebelah selatan Riau. Karena asap bergerak mengikuti arah angin, kondisi yang terpantau di Riau tidak hanya dipengaruhi sumber yang berada di dalam wilayah Riau.

Fenomena ini menggarisbawahi bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan bersifat lintas batas administratif, sehingga memerlukan koordinasi penanganan antarprovinsi untuk pengendalian yang efektif. Pergerakan asap yang mengikuti arah angin atmosfer memperluas jangkauan dampak dari sumber kebakaran ke wilayah-wilayah sekitarnya.

BMKGPerubahan Iklim
← Kembali ke Lingkungan & Iklim

Berita lainnya