MTI Desak Skema Darurat Multimoda di Tengah Ancaman Kelumpuhan Transportasi Jawa-Sumatera
Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4 September 2026) menghadirkan ancaman serius terhadap sistem transportasi nasional, khususnya yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera. Posisi strategis gunung berapi tersebut di Selat Sunda berpotensi melumpuhkan berbagai moda transportasi secara bersamaan.
Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai dampak erupsi memiliki karakteristik multimoda karena kawasan Selat Sunda merupakan titik pertemuan berbagai sistem transportasi. Wilayah tersebut mempertemukan penerbangan, penyeberangan, pelayaran, jalan nasional, jalan tol, pelabuhan, hingga sistem logistik yang menjadi urat nadi ekonomi kedua pulau besar tersebut.
Wakil Ketua Umum MTI Bidang Perumusan Kebijakan Transportasi, Ilham Malik, menekankan pentingnya perhatian komprehensif terhadap kawasan Selat Sunda.
Selat Sunda merupakan salah satu koridor transportasi dan logistik paling strategis di Indonesia. Gangguan terhadap kawasan ini dapat memberikan efek berantai terhadap mobilitas penduduk, distribusi barang, industri, rantai pasok, serta hubungan ekonomi Jawa-Sumatera.
Penutupan Bandara dan Dampak Penerbangan
MTI mengapresiasi keputusan pemerintah menutup sementara sejumlah bandara yang terdampak sebaran abu vulkanik sebagai langkah tepat berdasarkan prinsip keselamatan. Abu vulkanik diketahui memiliki risiko tinggi terhadap mesin pesawat, sistem navigasi, dan visibilitas penerbangan.
Organisasi tersebut menegaskan bahwa pembukaan maupun penutupan ruang udara harus sepenuhnya berdasarkan data meteorologi, vulkanologi, dan pertimbangan keselamatan penerbangan. MTI juga memberikan apresiasi kepada BMKG yang telah meningkatkan pemantauan 24 jam terhadap dampak erupsi pada atmosfer, penerbangan, serta kondisi laut di sekitar Selat Sunda.
Hingga saat ini, tercatat tujuh bandara masih ditutup dengan dampak pada sekitar 2.300 penerbangan dan lebih dari 270.000 penumpang yang harus mengubah rencana perjalanan mereka.
Penyeberangan Merak-Bakauheni sebagai Solusi
MTI menekankan bahwa perhatian pemerintah tidak boleh hanya terfokus pada sektor penerbangan. Pengoperasian jalur penyeberangan Merak-Bakauheni dinilai harus menjadi bagian integral dari skenario mitigasi bencana.
Pengoperasian penyeberangan Merak-Bakauheni harus menjadi bagian penting dalam skenario mitigasi,tegas Ilham. Berdasarkan kondisi terkini, parameter maritim di sekitar Bakauheni dan lintasan Selat Sunda masih memungkinkan aktivitas pelayaran dengan pengawasan ketat.
Namun demikian, operasi kapal harus terus menyesuaikan dengan perkembangan dinamis situasi. Faktor-faktor seperti arah sebaran abu, jarak pandang, kondisi angin, ketinggian gelombang, serta intensitas aktivitas vulkanik harus dipantau secara berkelanjutan.
Ekosistem Kepelabuhanan yang Lebih Luas
MTI mengingatkan bahwa selain Merak dan Bakauheni, pemerintah perlu memperhatikan keseluruhan ekosistem kepelabuhanan di wilayah Selat Sunda. Berbagai pelabuhan pendukung di kawasan tersebut memainkan peran vital dalam distribusi barang dan mobilitas masyarakat.
Desakan untuk menyiapkan skema darurat multimoda muncul sebagai respons terhadap potensi gangguan berkepanjangan. Dengan menggabungkan berbagai moda transportasi—darat, laut, dan udara—diharapkan dampak ekonomi dan sosial dari erupsi dapat diminimalkan.
Skenario darurat tersebut diharapkan mampu menjaga kelangsungan distribusi logistik, aksesibilitas masyarakat, serta stabilitas ekonomi dua pulau terbesar di Indonesia yang sangat bergantung pada konektivitas melalui Selat Sunda.












