Kesehatan

3 menit baca

Yuni Astuti

Kreator Mukbang China Chen Ziyi Meninggal di Usia 24 Tahun akibat Komplikasi Kalium Rendah

Chen Ziyi, influencer mukbang China dengan lebih dari satu juta pengikut, meninggal dunia setelah mengalami henti jantung yang dipicu oleh kadar kalium sangat rendah akibat kebiasaan makan berlebihan dan memuntahkan makanan.

68bd518b75976.jpg

Kreator Mukbang China Chen Ziyi Meninggal di Usia 24 Tahun akibat Komplikasi Kalium Rendah

Kreator konten mukbang asal China, Chen Ziyi yang dikenal dengan nama Ganfan Yingying, meninggal dunia pada 17 Agustus 2026 di usia 24 tahun. Kematiannya terjadi akibat henti jantung yang berkaitan dengan kadar kalium yang sangat rendah dalam darahnya.

Orang tua Chen mengumumkan kematian putrinya pada 4 September 2026, menurut laporan Global Times. Sebelum meninggal, Chen memiliki lebih dari satu juta pengikut di media sosial dan dikenal karena konten mukbang—fenomena yang berasal dari Korea Selatan sekitar tahun 2014 dan melibatkan konsumsi makanan dalam jumlah besar di hadapan kamera.

Peringatan Terakhir tentang Kondisi Kesehatan

Unggahan terakhir Chen dibuat pada 14 Agustus 2026, tiga hari sebelum kematiannya. Dalam postingan tersebut, ia mengungkapkan bahwa kebiasaan makan berlebihan telah membuat kadar kalium dalam darahnya turun hingga 2,3 mEq/L. Angka ini jauh di bawah rentang normal 3,5 hingga 5,2 mEq/L dan diklasifikasikan sebagai hipokalemia berat.

Chen memperingatkan pengikutnya untuk tidak mengorbankan kesehatan demi mendapatkan penghasilan. Ia menjelaskan bahwa kondisinya memerlukan perawatan rumah sakit, dan ini bukan kali pertama ia mengalami masalah kesehatan serupa akibat aktivitas mukbang.

Tekanan Industri Mukbang

Dalam salah satu kesempatan sebelumnya, Chen mengungkapkan bahwa melakukan siaran langsung penjualan sambil makan dalam jumlah sangat besar menguras kondisi fisiknya. Ia bahkan pernah harus menyantap sekitar 60 hingga 70 butir telur awetan dalam satu sesi. Menurut Chen, para kreator mukbang menghadapi tekanan untuk terus meningkatkan porsi makanan demi mendongkrak penjualan, meskipun tubuh mereka sudah tidak mampu menanggungnya.

Fenomena mukbang telah menjadi semakin populer dan menguntungkan di China, namun juga memicu kekhawatiran pemerintah. Pada tahun 2020, stasiun televisi negara CCTV mengkritik mukbang karena mempromosikan pemborosan makanan dan praktik seperti pura-pura makan serta muntah sengaja. Kritik ini mendorong platform media sosial untuk menerapkan regulasi khusus yang menargetkan video dan siaran langsung terkait makan berlebihan.

Pada tahun 2021, China menerapkan undang-undang anti-pemborosan makanan yang melarang pembuatan dan distribusi video makan berlebihan secara online, dengan denda hingga 100.000 yuan atau sekitar Rp 215 juta bagi pembuat konten yang mempromosikan makan berlebihan.

Penjelasan Medis dari Rumah Sakit Zhejiang

Dr. Chai Qichen dari Departemen Kedokteran Umum Rumah Sakit Zhejiang menjelaskan bahwa makan dalam porsi sangat besar bukanlah penyebab langsung hilangnya kalium dalam jumlah parah. Risiko yang lebih besar justru muncul akibat kebiasaan memuntahkan makanan dan penggunaan obat pencahar.

Menurut Chai, sejumlah pelaku mukbang mengonsumsi makanan dalam jumlah sangat banyak di depan kamera, kemudian memuntahkannya atau menggunakan obat pencahar setelah proses perekaman untuk menjaga bentuk tubuh. Cairan di lambung dan usus mengandung kadar kalium yang jauh lebih tinggi dibandingkan darah. Karena itu, muntah atau diare yang terjadi berulang kali dapat membuat tubuh kehilangan kalium dalam jumlah besar.

Kalium berperan penting dalam mendukung aktivitas listrik jantung. Kekurangan kalium yang parah dapat menyebabkan gangguan irama jantung yang tidak teratur dan berpotensi memicu henti jantung. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, kadar kalium dalam darah dapat turun secara bertahap hingga mencapai level yang mengancam jiwa.

Pola yang Mengkhawatirkan

Kematian Chen bukan kasus terisolasi. Pada tahun 2024, kreator mukbang China lainnya, Pan Xiaoting, meninggal dunia saat merekam siaran langsung. Pan sebelumnya pernah dirawat di rumah sakit karena mengalami pendarahan lambung akibat kebiasaan makan ekstrem.

Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Eating Disorders menemukan bahwa menonton mukbang secara berlebihan berkaitan dengan perilaku makan berlebihan dan pembuangan makanan. Gejala gangguan makan, khususnya makan berlebihan dan pembuangan paksa, berkorelasi dengan tingkat konsumsi konten mukbang yang lebih tinggi.

Kasus Chen Ziyi menyoroti risiko kesehatan serius yang dihadapi kreator konten mukbang, terutama di tengah tekanan untuk menghasilkan konten yang semakin ekstrem demi mempertahankan popularitas dan pendapatan.

Media SosialTiongkok
← Kembali ke Kesehatan

Berita lainnya