UMKM

3 menit baca

Andi Wijaya

Kementerian Perindustrian Perkuat Ekosistem Tenun Ulos untuk Tingkatkan Daya Saing Global

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mendorong pengembangan industri ulos melalui penguatan kapasitas perajin, inovasi produk, dan perluasan pasar, dengan target meningkatkan nilai ekonomi sekaligus melestarikan warisan budaya Batak.

lake-920033b1-08d4-42c0-a202-45c4583671c2-0.png

MENPERIN DORONG PENGEMBANGAN ULOS DEMI DONGKRAK INDUSTRI TENUN

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan komitmen pemerintah untuk mengembangkan industri kain ulos melalui penguatan ekosistem industri tenun tradisional yang komprehensif. Upaya ini mencakup peningkatan kapasitas perajin, inovasi produk, hingga perluasan akses pasar domestik dan internasional.

Dalam kunjungannya ke Pameran Tenun Ulos di Jakarta pada hari Selasa, Sarmuji menyampaikan bahwa ulos bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan juga simbol identitas budaya masyarakat Batak yang mencerminkan keberagaman Indonesia. Kain tenun tradisional ini digunakan dalam berbagai upacara adat seperti pernikahan, pemakaman, dan perayaan kelahiran, dengan setiap pola dan warna memiliki makna simbolis tersendiri.

Saat ini terdapat 43 sentra produksi tenun ulos yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Utara, termasuk Tapanuli Utara, Toba, dan Simalungun. Di wilayah tersebut, lebih dari 15.000 perajin tenun terdaftar, dengan sekitar 60 persen di antaranya adalah perempuan berusia 40 tahun ke atas, yang menunjukkan tantangan regenerasi yang perlu segera diatasi.

Sarmuji menekankan bahwa pengembangan ulos harus berjalan seiring dengan pelestarian budaya agar produk ini tetap relevan dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi para perajin. Kawasan Danau Toba, sebagai jantung produksi ulos dan salah satu dari 10 destinasi wisata prioritas nasional, berpotensi menjadi platform promosi yang menarik wisatawan mancanegara sekaligus memperluas pasar.

Tantangan dan Peluang Pasar

Industri ulos menghadapi sejumlah kendala struktural, antara lain keberlanjutan keterampilan menenun, regenerasi perajin, minat generasi muda yang menurun, serta kebutuhan peningkatan kualitas produk dan inovasi desain. Proses pembuatan satu helai ulos secara tradisional membutuhkan waktu 2-4 minggu tergantung kompleksitas motif, ditambah beberapa hari untuk persiapan pewarna alami, sehingga produksi massal menjadi tantangan tersendiri.

Meski demikian, peluang pasar domestik terus terbuka. Ulos kini tidak hanya digunakan dalam konteks adat, tetapi juga telah dikembangkan menjadi busana siap pakai, aksesori mode, produk dekorasi interior, hingga cenderamata. Beberapa desainer Indonesia telah mengintegrasikan ulos ke dalam koleksi kontemporer yang ditampilkan di Jakarta Fashion Week dan ajang mode internasional, memperluas segmen pasar dan meningkatkan daya tarik produk.

Di tingkat regional, tekstil tradisional Indonesia termasuk ulos mendapat dukungan melalui program promosi ASEAN Handicraft Promotion and Development Centre (AHPADA), yang menyelenggarakan pameran khusus di Thailand, Vietnam, dan Malaysia sepanjang 2025-2026.

Strategi Pemerintah

Kementerian Perindustrian berkomitmen memperkuat ekosistem melalui berbagai langkah strategis, termasuk fasilitasi pengembangan sumber daya manusia dan kewirausahaan bagi industri kecil menengah, perlindungan produk khas daerah melalui indikasi geografis, serta peningkatan kapasitas dan produktivitas sentra industri.

Perlindungan hukum telah diberikan kepada ulos melalui sertifikasi Indikasi Geografis 'Ulos Batak' yang diperoleh pada 2019 berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Sertifikasi ini melindungi keaslian metode produksi dan asal wilayah ulos.

Program pemerintah juga mencakup restrukturisasi mesin dan peralatan, penjaminan ketersediaan bahan baku, pemanfaatan teknologi dalam proses produksi, serta perluasan akses pasar melalui promosi dan fasilitasi pameran di dalam maupun luar negeri. Upaya ini sejalan dengan Program Pengembangan Kerajinan Nasional yang menempatkan tekstil tradisional sebagai sektor prioritas dalam pengembangan ekonomi kreatif.

Kinerja Ekspor yang Menjanjikan

Potensi industri tenun tercermin dari kinerja ekspornya yang menunjukkan tren positif. Menurut data Badan Pusat Statistik, ekspor tenun ikat Indonesia pada 2025 mencapai 28.000 dolar AS. Pada semester pertama 2026, nilainya melonjak menjadi 34.000 dolar AS, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang hanya sebesar 13.600 dolar AS.

Secara keseluruhan, ekspor tekstil tradisional Indonesia termasuk batik, ikat, dan songket mencapai 89,2 juta dolar AS pada 2025, dengan Jepang, Amerika Serikat, dan Belanda sebagai tiga negara tujuan utama.

Sarmuji menyatakan harapannya bahwa pengembangan ulos dapat membuka peluang pasar yang lebih luas, meningkatkan kesejahteraan para perajin, dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Inisiatif ini juga merupakan bagian dari agenda kemandirian ekonomi nasional pemerintahan saat ini yang menempatkan produk warisan budaya sebagai aset strategis pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Pariwisata IndonesiaBatikASEAN
← Kembali ke UMKM

Berita lainnya