IHSG Gagal Bertahan di Zona Hijau, Ditutup Melemah ke 5.925
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Selasa (13/10/2026), turun 10,17 poin atau 0,17% ke level 5.925. Penurunan ini melanjutkan tren pelemahan yang telah menghantam pasar modal Indonesia sepanjang Oktober.
Sehari sebelumnya, pada 12 Oktober, IHSG telah anjlok 2,59% ke level 5.936,15, mencatat level intraday terendah dalam tiga bulan terakhir sejak 13 Juli 2026. Tekanan jual yang berkelanjutan ini menandai periode volatilitas tinggi bagi bursa Indonesia.
Pada penutupan perdagangan hari ini, sebanyak 351 saham menguat, sementara 308 saham melemah dan 304 saham stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp10,5 triliun dari 33,1 miliar saham yang diperdagangkan.
Tekanan Investor Asing Berlanjut
Salah satu faktor utama di balik pelemahan pasar adalah aksi jual berkelanjutan dari investor asing. Pada 12 Oktober, investor asing mencatatkan penjualan bersih senilai Rp166,22 miliar, menciptakan tekanan signifikan terhadap harga saham.
Aksi jual asing ini berlanjut pada perdagangan hari ini, menambah sentimen negatif yang telah membebani pasar sepanjang bulan Oktober. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia saat ini berada di sekitar Rp10.400 triliun.
Kinerja Indeks Sektoral Beragam
Pergerakan indeks utama menunjukkan tren serupa dengan IHSG. Indeks LQ45, yang terdiri dari 45 saham dengan kapitalisasi pasar dan nilai transaksi tertinggi di Bursa Efek Indonesia, melemah 0,29% ke level 589. Indeks ini dihitung ulang setiap semester untuk memastikan tetap mencerminkan saham-saham paling likuid.
Indeks JII menguat tipis 0,05% ke level 353, sementara indeks IDX30 turun 0,44% ke 328 dan indeks MNC36 melemah 0,34% ke 260.
Dari sisi sektoral, sejumlah sektor berhasil bertahan di zona hijau, termasuk energi, konsumer non-siklikal, infrastruktur, properti, bahan baku, industri, transportasi, dan kesehatan. Namun, sektor konsumer siklikal, keuangan, dan teknologi mencatatkan pelemahan.
Konteks Penurunan Lebih Luas
Pelemahan IHSG pada pertengahan Oktober ini merupakan kelanjutan dari tren negatif yang dimulai sejak awal bulan. Pada 2 Oktober, IHSG telah turun 3,28% ke level 6.036,89, anjlok tajam dari penutupan minggu sebelumnya di 6.241,89 pada 25 September.
Penurunan ini semakin signifikan jika dibandingkan dengan pencapaian IHSG di awal tahun. Pada 13 Januari 2026, indeks sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa di level 8.948,30. Sejak puncak tersebut, IHSG telah mengalami koreksi substansial hingga level saat ini.
Rentang perdagangan 52 minggu IHSG mencapai 5.317,91 hingga 9.174,47, menunjukkan volatilitas ekstrem yang dialami pasar modal Indonesia sepanjang 2026.
Saham Unggulan dan Tertekan
Beberapa saham mencatatkan kenaikan signifikan pada perdagangan hari ini. PT Griptha Putra Persada Tbk (GRPH) memimpin dengan lonjakan 34,15% ke Rp110, diikuti PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA) yang naik 29,73% ke Rp144, dan PT Pelangi Indah Canindo Tbk (PICO) yang menguat 28,48% ke Rp194.
Di sisi lain, sejumlah saham mengalami tekanan berat. Reksa Dana Batavia Smart Liquid ETF anjlok 15% ke Rp425, PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk (ASMI) turun 14,71% ke Rp29, dan PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK) melemah 14,71% ke Rp11.
Latar Belakang Ekonomi Makro
Meskipun pasar saham mengalami tekanan, fundamentals ekonomi Indonesia menunjukkan pertumbuhan moderat. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal kedua 2026 tumbuh 5,29% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lembaga-lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun penuh 2026 berkisar antara 4,7% hingga 5,2%. Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan 5,0%, Asian Development Bank (ADB) 5,2%, dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) 4,7%.
Pelemahan pasar saham yang tajam ini terjadi di tengah ekspektasi awal tahun yang optimis, ketika pemerintah Indonesia melalui Menteri Keuangan pernah memproyeksikan IHSG bisa menembus level 10.000 pada akhir 2026. Proyeksi tersebut kini tampak semakin menantang mengingat jarak signifikan antara level saat ini dengan target tersebut.












