Kemanusiaan

2 menit baca

Ratna Sari

UN Women: Hampir 50.000 Perempuan dan Anak Perempuan di Gaza Tewas atau Terluka Parah

United Nations Women melaporkan hampir 50.000 perempuan dan anak perempuan tewas atau mengalami cedera parah di Gaza sejak Oktober 2023, dengan hampir satu juta orang terpaksa mengungsi.

6a1a5954030a0.jpg

UN Women: Hampir 50.000 Perempuan dan Anak Perempuan di Gaza Tewas atau Terluka Parah

United Nations Women mengungkapkan angka yang mengkhawatirkan terkait dampak perang di Gaza terhadap perempuan dan anak perempuan. Sejak konflik meletus pada Oktober 2023, hampir 50.000 perempuan dan anak perempuan dilaporkan tewas atau mengalami luka parah yang mengubah kehidupan mereka selamanya.

Sofia Calltorp, Ketua Aksi Kemanusiaan UN Women, merinci bahwa lebih dari 38.000 perempuan dan anak perempuan kehilangan nyawa, sementara 11.700 lainnya menderita cedera serius yang menyebabkan disabilitas permanen. "Lebih dari 38.000 orang tewas dan 11.700 lainnya mengalami cedera yang sangat parah sehingga kini mereka hidup dengan disabilitas seumur hidup," ungkap Calltorp.

Mayoritas korban jiwa tercatat selama dua tahun pertama perang. Meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober 2025, kekerasan masih terus berlanjut. Sejak gencatan senjata tersebut, sebanyak 277 perempuan dan anak perempuan masih dilaporkan tewas.

Krisis Pengungsian Massal

Selain korban jiwa, konflik ini memicu gelombang pengungsian masif. Hampir satu juta perempuan dan anak perempuan terpaksa meninggalkan rumah mereka. Sebagian besar dari mereka masih hidup sebagai pengungsi, tinggal di tenda-tenda darurat atau bahkan di antara reruntuhan bangunan yang dulunya menjadi tempat tinggal mereka.

Struktur rumah tangga di Gaza juga mengalami transformasi dramatis. Jumlah rumah tangga yang dikepalai oleh perempuan meningkat hingga dua kali lipat. Saat ini, satu dari empat rumah tangga di Gaza dipimpin oleh perempuan, mencerminkan banyaknya kepala keluarga laki-laki yang tewas atau hilang dalam konflik.

Akses Terbatas terhadap Kebutuhan Dasar

Dampak perang terlihat jelas dari terbatasnya akses perempuan terhadap kebutuhan dasar, layanan kesehatan, pendidikan, dan perlindungan. Laporan UN Women yang diterbitkan pada April 2026 mencatat bahwa 95 persen bisnis yang mempekerjakan perempuan telah tutup, melumpuhkan ekonomi lokal dan menghilangkan sumber mata pencaharian.

Kondisi kemanusiaan semakin memburuk dengan fakta bahwa 1,1 juta perempuan dan anak perempuan tidak memiliki akses ke air bersih. Sementara itu, 690.000 orang terpaksa tinggal di tempat penampungan yang sangat penuh sesak, jauh dari standar kehidupan yang layak.

Pendidikan juga menjadi korban. Sebanyak 328.000 anak perempuan putus sekolah akibat perang, menghancurkan masa depan generasi muda Palestina dan menciptakan kesenjangan pendidikan yang akan berdampak jangka panjang.

Organisasi Perempuan Kewalahan

Di tengah situasi yang mendesak ini, pemangkasan pendanaan semakin melemahkan kemampuan organisasi-organisasi perempuan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Dari 14 organisasi perempuan yang disurvei, sebanyak 13 organisasi melaporkan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.

Seluruh organisasi yang disurvei melaporkan peningkatan tajam dalam kekerasan berbasis gender, kemiskinan, dan gangguan kesehatan mental sejak 2025. Sementara itu, 13 organisasi melaporkan kenaikan mengkhawatirkan dalam angka pernikahan anak, yang menunjukkan bagaimana krisis mendorong keluarga mengambil keputusan yang merugikan anak perempuan.

Laporan UN Women ini menyoroti krisis kemanusiaan yang terus berlangsung di Gaza, khususnya dampak yang tidak proporsional terhadap perempuan dan anak perempuan. Dari kematian dan cedera permanen hingga pengungsian massal dan hilangnya akses terhadap kebutuhan dasar, perempuan Gaza menanggung beban ganda sebagai korban langsung kekerasan dan tulang punggung keluarga di tengah kehancuran.

GazaPerubahan Iklim
← Kembali ke Kemanusiaan

Berita lainnya