Trump Tegaskan Tak Ada Pembicaraan Lagi dengan Iran, Klaim Selat Hormuz Wilayah AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa pihaknya tidak sedang atau berencana menggelar pembicaraan dengan Iran terkait Selat Hormuz, jalur pelayaran yang mengangkut sekitar 20-21 juta barel minyak per hari dalam kondisi normal dan mewakili sekitar 20-25 persen perdagangan minyak laut global.
Pernyataan ini disampaikan Trump melalui platform media sosial Truth Social pada Selasa, di tengah memanasnya ketegangan akibat kesepakatan pengelolaan Selat Hormuz antara Iran dan Oman. Trump menyatakan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran masih berlaku sepenuhnya, namun kapal-kapal non-Iran bebas melintas karena ranjau air telah dibersihkan.
Sikap Trump ini berbalik arah dari klaimnya pada Senin, ketika ia mengaku AS terlibat dialog lewat saluran belakang dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Klaim tersebut langsung dibantah tegas oleh Teheran.
Klaim Kontroversial atas Wilayah Selat
Ketegangan memuncak setelah Trump mengunggah gambar peta Selat Hormuz dengan keterangan "New US Territory" (Wilayah Baru AS). Langkah ini mengulangi ancamannya pekan lalu untuk mendeklarasikan selat yang lebarnya hanya 33-39 kilometer di titik tersempit itu sebagai wilayah AS jika Iran tidak menyerah.
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan berbatasan dengan Iran di utara serta Semenanjung Musandam Oman di selatan, dengan perairan teritorial yang secara hukum dibagi antara Iran dan Oman. Jalur pelayaran ini hanya memiliki lebar 3,2 kilometer untuk setiap arah, dipisahkan oleh zona penyangga selebar 3,2 kilometer.
Dalam unggahannya, Trump menulis, "Tidak ada pembicaraan atau percakapan yang sedang berlangsung, atau dijadwalkan, dengan Republik Islam Iran. Blokade Angkatan Laut tetap berlaku penuh dan efektif. Selat Hormuz terbuka dan beroperasi. Semua ranjau air telah disingkirkan atau diledakkan."
Respons Keras Iran
Pernyataan Trump langsung memicu respons dari Deputi Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi. Melalui media sosial, Gharibabadi menyampaikan kritik tajam terhadap presiden AS tersebut.
"Seperti halnya Trump dengan benar menuliskan nama Teluk Persia yang abadi, segera ilusi dia mengenai Selat Hormuz akan dikoreksi atau kami yang akan mengoreksi ilusi dari pria yang berhalusinasi ini," tulis Gharibabadi.
Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Washington memenuhi ketentuan Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada 17 Juni 2026 untuk mengakhiri permusuhan. Kesepakatan Islamabad tersebut menetapkan kerangka waktu 60 hari untuk menyelesaikan isu-isu termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz.
Tuntutan Iran dan Jalan Buntu Diplomasi
Ketua Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan di hadapan parlemen bahwa persyaratan pembukaan selat mencakup pencabutan blokade pelabuhan Iran, penghapusan sanksi minyak, pembebasan aset Teheran yang dibekukan, serta penghentian ancaman dan operasi militer AS di semua lini.
AS telah memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran mulai 13 April hingga 18 Juni 2026, kemudian memberlakukannya kembali pada 14 Juli 2026 setelah kesepakatan Juni mengalami kemacetan. Sementara itu, Iran menutup Selat Hormuz untuk kapal asing pada 28 Februari 2026 setelah serangan udara AS dan Israel, menciptakan apa yang disebut sebagai "blokade ganda".
Periode gencatan senjata 60 hari yang ditetapkan dalam memorandum Juni telah berakhir pada 16 Agustus 2026 tanpa kesepakatan jangka panjang, dengan Trump mengindikasikan tidak akan mencari perpanjangan.
Negosiasi Iran-Oman Picu Frustrasi Trump
Sikap keras Trump diyakini dipicu oleh frustrasinya melihat Iran dan Oman terus melanjutkan negosiasi pengelolaan jalur perairan strategis tersebut. Menurut laporan media Iran awal Agustus 2026, kesepakatan yang diusulkan akan melarang kapal Amerika dan Israel melintas melalui selat dan memberlakukan denda hingga 20 persen dari nilai kargo bagi pelanggar.
Trump bahkan mengancam akan membom Oman jika negara tersebut mencampuri urusan Selat Hormuz.
Di sisi lain, para mediator internasional masih berupaya menghidupkan kembali negosiasi. Qatar mengonfirmasi bahwa mediator saat ini sedang menunggu kesepakatan Iran-Oman sebelum mendorong Washington dan Teheran kembali ke meja perundingan.
Seorang pejabat AS mengonfirmasi bahwa pembicaraan positif sempat berlangsung, tetapi Trump memutuskan untuk menunda negosiasi sampai Teheran siap membuat kesepakatan.
Dampak Global Penutupan Selat
Penutupan Selat Hormuz berdampak signifikan terhadap pasokan energi global. Sebelum krisis, China, India, Jepang, dan Korea Selatan merupakan tujuan utama minyak mentah yang melewati selat, menyumbang sekitar 67-69 persen dari seluruh aliran minyak mentah melalui jalur tersebut, dengan sekitar 82-84 persen total aliran menuju pasar Asia.
Arab Saudi sendiri menyumbang sekitar 38 persen aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz, memindahkan sekitar 5,5 juta barel per hari, menjadikannya kontributor tunggal terbesar dari satu negara untuk lalu lintas selat.
Selat Hormuz juga mengangkut sekitar 20 persen gas alam cair (LNG) dunia, menjadikan jalur pelayaran ini sebagai salah satu titik tersempit paling strategis dalam perdagangan energi global.












