Global

3 menit baca

Maya Kartika

AS Ancam Sanksi Mitra Dagang Iran, China dan Teheran Tolak Tekanan Ekonomi

Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan negara-negara yang masih berbisnis dengan Iran untuk segera memutus hubungan ekonomi atau menghadapi sanksi. Iran dan China menolak tekanan tersebut, menyebut AS tidak dalam posisi untuk membatasi hubungan dagang Teheran.

6a814453ba7b6.jpeg

AS Ancam Sanksi Mitra Dagang Iran

Amerika Serikat mengumumkan kampanye sanksi ekonomi baru terhadap Iran yang menargetkan negara-negara mitra dagang Teheran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent, yang dilantik sebagai Menteri Keuangan ke-79 pada Januari 2025 dengan pengalaman 40 tahun di bidang manajemen investasi global, memperingatkan setiap negara yang masih berbisnis dengan Iran untuk segera memutus hubungan ekonomi.

Kami sedang menyamakan posisi dengan setiap negara untuk menyampaikan harapan kami. Kami tahu siapa mereka. Mereka juga tahu siapa mereka. Jadi ketika palu tindakan Departemen Keuangan AS dijatuhkan kepada mereka, mereka tidak akan punya siapa pun untuk disalahkan selain diri mereka sendiri

kata Bessent pada Senin (24/8/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Presiden Donald Trump melancarkan "D-Day ekonomi" dengan janji memberikan tekanan ekonomi lebih besar kepada Iran. Dalam kampanye yang diberi nama "Operation Economic Outcast", Bessent menyebut Trump telah menelepon para pemimpin dunia untuk meminta mereka menghentikan interaksi dengan Teheran.

Sanksi Sasar Lima Sektor Kunci

Departemen Keuangan AS pada 24 Agustus 2026 mengumumkan 60 sanksi baru yang menargetkan entitas, kapal, dan individu di Uni Emirat Arab, Hong Kong, China, Singapura, dan Swiss yang diduga memfasilitasi kegiatan Iran. Operasi ini menargetkan lima sektor vital ekonomi Iran: aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran.

Ketika ditanya mengapa tidak langsung memberikan sanksi sekunder, Bessent mengatakan ingin memberi kesempatan kepada negara-negara tersebut sebelum terlambat. "Mengapa saya ingin menghancurkan sistem keuangan global?" katanya. Sanksi sekunder, yang menargetkan entitas non-AS yang berbisnis dengan negara yang dikenai sanksi, pertama kali digunakan terhadap Iran pada 1996 melalui Iran Sanctions Act dan diperluas signifikan pada 2010-2012 untuk mencakup pembeli minyak.

Mitra Dagang Utama Iran

Bessent tidak secara rinci menyebut negara mana yang berpotensi menghadapi sanksi. Namun China, Turki, dan UEA merupakan mitra dagang terbesar Iran. Data Organisasi Perdagangan Dunia menunjukkan UEA menyediakan 30 persen impor Iran senilai 21 miliar dolar AS pada 2024 dan menyumbang 13 persen ekspor Iran pada tahun yang sama. Minggu ini, UEA menangguhkan semua transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut, mengutip eskalasi militer oleh Teheran.

Sementara perdagangan bilateral Turki-Iran mencapai sekitar 5-6 miliar dolar AS per tahun, dengan Turki mengekspor sekitar 3 miliar dolar AS ke Iran dan mengimpor gas alam Iran yang menyediakan 13 persen dari total impor gas Turki. China membeli sekitar 90 persen ekspor minyak Iran menurut data terkini, menjadikan China pelanggan minyak terbesar Iran dan menyumbang sekitar 15 persen dari total permintaan minyak China.

Respons Iran dan China

Sesaat sebelum pengumuman, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf, yang menjabat sejak Mei 2020 dan merupakan mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam dengan koneksi militer dan politik yang kuat, menyatakan AS tidak berada dalam posisi ekonomi yang dapat membatasi hubungan Teheran dengan negara-negara lain.

Para mitra dagang Iran, baik melalui media maupun pesan yang dikirimkan kepada kami, telah memperjelas bahwa mereka sama sekali tidak memperhitungkan pernyataan-pernyataan tersebut

tulis Qalibaf di akun media sosial X miliknya.

Pernyataan ini terjadi di tengah pemerintahan AS yang kesulitan mencari jalan keluar dari perang. Persediaan senjata yang semakin menipis membuat pejabat AS mengalihkan fokus terhadap perang ekonomi. AS telah mempertahankan sanksi terhadap Iran selama hampir 50 tahun, dengan langkah pertama diberlakukan pada awal 1980-an menanggapi dukungan Teheran terhadap terorisme, yang diperluas menjadi embargo perdagangan bilateral penuh pada 1995.

Meski begitu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyampaikan pada Senin (24/8/2026) bahwa ia tidak mengesampingkan kemungkinan melanjutkan serangan untuk menghantam Iran selama jeda permusuhan.

TiongkokDonald Trump
← Kembali ke Global

Berita lainnya