Pendidikan

3 menit baca

Ratna Sari

Stagnasi Skor PISA: Kurikulum atau Beban Kognitif Anak Indonesia?

Hasil PISA 2025 menunjukkan skor Indonesia stagnan dengan 60,9% siswa belum mencapai level minimum. Analisis mengungkap masalah kesehatan yang terabaikan sebagai faktor penting di balik rendahnya kapasitas belajar anak.

6aa5ea9e70aa1.jpg

Variabel yang Terabaikan

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang dirilis OECD pada 8 September menempatkan skor sains Indonesia di angka 389, membaca 365, dan matematika 364. Sains dan membaca naik tipis, matematika turun tipis, dan OECD menilai tidak ada perubahan signifikan secara statistik.

Sekitar 60,9 persen siswa Indonesia belum mencapai Level 2 yang merupakan ambang kemampuan minimum di ketiga bidang sekaligus. Ini menjadikan Indonesia tetap berada pada rentang terbawah negara dengan populasi anak.

Beragam tafsir pun muncul, dari persoalan kurikulum, kualitas guru, lemahnya metode pembelajaran, hingga kesenjangan antarwilayah. Namun, hampir semua analisis masih belum menggali satu poin penting: apakah otak anak yang skor PISA-nya diukur berada dalam kondisi siap belajar?

Variabel yang Terabaikan

Ada satu variabel yang absen dari perdebatan PISA Indonesia, yaitu beban kognitif yang dipikul anak akibat masalah kesehatan yang tidak terdiagnosis.

Skor PISA seorang anak pada dasarnya adalah hasil dari kesempatan dan kapasitas untuk belajar. Kesempatan belajar mencakup kurikulum, guru, dan sekolah. Sedangkan kapasitas belajar menyangkut kondisi biologis organ yang melakukan kerja belajar itu sendiri.

Selain otak, belajar melibatkan organ mata yang menangkap informasi, darah yang membawa oksigen ke otak, nutrisi yang membangun jaringan saraf, dan kondisi mental yang memungkinkan atensi bekerja.

Selama 25 tahun berpartisipasi dalam pengukuran PISA, hampir seluruh energi kebijakan tercurah pada aspek kesempatan belajar saja. Kajian dari Universitas Negeri Jakarta (2021) menyoroti bahwa kurikulum berganti dari KBK hingga Kurikulum Merdeka, Ujian Nasional dihapus, Asesmen Nasional diperkenalkan, dan minimal 20 persen APBN dialokasikan untuk pendidikan, namun skor tetap berkisar di rentang sempit 360 hingga 400 poin.

Artinya, intervensi pada kesempatan belajar saja tidak cukup kuat untuk mengangkat luaran pembelajaran.

Konsep Silent Cognitive Burden

Dalam kajian strategis Indonesia Health Development Center (IHDC) tahun ini, diperkenalkan konsep berbasis kajian yang disebut Silent Cognitive Burden. Pendekatan ini menggabungkan rapid review, community diagnosis, analisis prioritas, dan validasi pakar lintas disiplin.

Kajian IHDC mengidentifikasi empat determinan utama beban kognitif pada anak usia sekolah yang sangat relevan dengan konteks hasil skor PISA terbaru. Keempat determinan ini dinilai dapat memengaruhi kapasitas kognitif anak usia sekolah dasar di Indonesia dan berpotensi menghambat kemampuan inteligensi serta kemampuan mereka membayangkan masa depan.

Determinan tersebut mencakup kondisi kesehatan fisik yang tidak terdiagnosis, status gizi yang tidak optimal, gangguan penglihatan yang tidak terkoreksi, dan beban psikososial yang tidak tertangani. Semua faktor ini bekerja secara diam-diam mengurangi kapasitas otak anak untuk menyerap dan memproses informasi dalam proses belajar.

Implikasi bagi Kebijakan Pendidikan

Temuan ini menunjukkan bahwa memperbaiki kurikulum atau menambah jam belajar tidak akan membawa perubahan berarti jika kapasitas biologis anak untuk belajar tidak diperbaiki terlebih dahulu.

Diperlukan pendekatan holistik yang mengintegrasikan intervensi kesehatan ke dalam ekosistem pendidikan. Skrining kesehatan rutin, program gizi sekolah yang terukur, pemeriksaan penglihatan berkala, dan dukungan kesehatan mental harus menjadi bagian standar dari sistem pendidikan nasional.

Selama 25 tahun, Indonesia telah berinvestasi besar dalam infrastruktur pendidikan. Kini saatnya memberikan perhatian serius pada infrastruktur biologis anak—kondisi tubuh dan otak mereka—agar investasi pendidikan tidak sia-sia.

Stagnasi skor PISA bukan hanya soal kurikulum atau metode mengajar. Ini adalah cermin dari sistem yang belum memandang anak secara utuh: sebagai individu yang membutuhkan dukungan kesehatan menyeluruh agar dapat belajar dengan optimal.

Kurikulum Merdeka
← Kembali ke Pendidikan

Berita lainnya