Pendidikan

4 menit baca

Ratna Sari

Bocah 7 Tahun Melompat 400 Meter ke Sekolah dengan Satu Kaki, Kisahnya Viral dan Menuai Bantuan

Ragini, bocah perempuan 7 tahun dari Ballia, Uttar Pradesh, India, setiap hari melompat sejauh 400 meter menuju sekolah menggunakan satu kaki setelah kehilangan kaki lainnya akibat kecelakaan saat bayi. Kisahnya yang viral membuahkan bantuan dari pejabat dan masyarakat.

6a994cf27a93e.png

Bocah 7 Tahun Melompat 400 Meter ke Sekolah dengan Satu Kaki, Kisahnya Viral dan Menuai Bantuan

Seorang bocah perempuan berusia 7 tahun di Ballia, Uttar Pradesh, India, menarik perhatian publik dengan perjuangan luar biasanya untuk bersekolah. Ragini, siswa kelas 1 di Primary School Digheda, Maniar, harus melompat sejauh 400 meter dari rumahnya ke sekolah menggunakan satu kaki setiap hari.

Ragini kehilangan salah satu kakinya ketika masih berusia 6 bulan akibat kecelakaan. Ibunya, Babita Devi, menceritakan bahwa kecelakaan itu terjadi saat ia sedang membawa putrinya untuk mendapatkan obat. Kaki Ragini mengalami luka parah dan meskipun sempat menjalani perawatan di beberapa tempat, kakinya tidak dapat diselamatkan.

Kami sudah membawanya berobat ke beberapa tempat, tetapi kakinya tidak dapat diselamatkan. Kami tidak memiliki cukup uang untuk melanjutkan pengobatan.

Keinginan Kuat Bersekolah

Meskipun menghadapi keterbatasan fisik, keinginan Ragini untuk bersekolah sangat kuat. Ia sering melihat anak-anak di sekitar rumahnya berjalan menuju sekolah dengan tas mereka. Pemandangan itu membuat Ragini ingin melakukan hal yang sama. Babita mengatakan putrinya bahkan sering menangis ketika melihat teman-teman sebayanya berangkat sekolah.

Ketika anak-anak membawa tas dan melewati rumah saya untuk pergi ke sekolah, Ragini juga menangis. Dia mengatakan, 'Saya juga ingin belajar'.

Keinginan Ragini akhirnya terwujud. Meskipun perjalanan dari rumah ke sekolah menjadi tantangan berat, ia mulai bersekolah dengan cara melompat menggunakan satu kaki sejauh sekitar 400 meter. Pada beberapa kesempatan, anggota keluarganya menemani perjalanan tersebut, namun ada juga hari ketika Ragini berangkat sendiri.

Perjuangan Ragini menjadi semakin bermakna mengingat kondisi pendidikan di wilayahnya. Menurut data sensus 2011, Ballia memiliki tingkat literasi keseluruhan sebesar 70,94 persen, dengan tingkat literasi perempuan hanya 59,75 persen. Angka ini berada di bawah rata-rata negara bagian Uttar Pradesh yang mencapai 70,69 persen dan rata-rata nasional India sebesar 74,04 persen.

Kisah Viral dan Bantuan Berdatangan

Kisah Ragini kemudian menjadi viral di media sosial India setelah ia menyampaikan permintaan sederhana kepada pejabat setempat untuk diberikan alat bantu agar dapat pergi ke sekolah dengan lebih mudah. Video perjuangannya menyentuh hati banyak orang dan memicu respons cepat dari berbagai pihak.

Anggota Rajya Sabha dari Aam Aadmi Party (AAP), Sanjay Singh, turun tangan untuk membantu keluarga Ragini. Keluarga tersebut menerima bantuan finansial sebesar Rs 26.500, sementara tim lokal partai mengunjungi desa Ragini dan memberikan kursi roda kepada bocah itu.

Namun, kisah Ragini juga mengungkap permasalahan sistemik yang lebih besar. Kepala sekolahnya, Ajit Pal, menyatakan bahwa meskipun pendaftaran Ragini dalam skema pemerintah telah selesai, ia tidak dapat menerima manfaatnya karena masuk sekolah terlambat. Hal ini menunjukkan hambatan administratif yang sering dihadapi anak-anak penyandang disabilitas dalam mengakses bantuan pemerintah.

Tantangan Akses Alat Bantu di India

Kesulitan keluarga Ragini dalam mendapatkan alat bantu prostetik mencerminkan masalah yang lebih luas di India. Meskipun amputasi merupakan penyebab utama disabilitas di negara tersebut, hanya sekitar 5 persen penderita amputasi yang memiliki akses ke perangkat prostetik. Data dari Global Burden of Diseases tahun 2019 menunjukkan bahwa sekitar 2 juta amputasi dilakukan di India pada tahun tersebut, dengan sekitar 23.500 kasus baru setiap tahunnya.

Tantangan utama yang dihadapi pusat prostetik di India meliputi kurangnya ketersediaan dan tingginya biaya bahan yang sesuai untuk prostetik, kurangnya keahlian dalam memanfaatkan bahan sintetis yang lebih baru, dan banyak penderita amputasi harus menggunakan prostetik yang tidak dirancang khusus untuk kondisi dan kebiasaan lokal.

Pemerintah Uttar Pradesh sebenarnya mengoperasikan Divyangjan Sashaktikaran Yojana 2026, program yang menyediakan pensiun disabilitas sebesar Rs 1.000 per bulan, alat bantu gratis termasuk sepeda roda tiga, tongkat penyangga dan alat bantu dengar, serta perjalanan gratis di kendaraan umum negara bagian untuk penyandang disabilitas dengan tingkat kecacatan 40 persen atau lebih. Lebih dari 1,1 juta orang saat ini menerima pensiun ini.

Selain itu, Rights of Persons with Disabilities Act 2016 menyediakan kerangka hukum untuk pendidikan inklusif di India, yang mewajibkan lembaga pendidikan yang didanai pemerintah untuk menyediakan fasilitas yang dapat diakses, akomodasi yang wajar, dukungan individual, dan dukungan transportasi bagi anak-anak dengan kebutuhan dukungan tinggi.

Penelitian dari pusat rehabilitasi tersier di India Utara menunjukkan bahwa amputasi traumatis pada anak-anak dan remaja sebagian besar melibatkan anggota tubuh bagian bawah, dengan kecelakaan lalu lintas diikuti kecelakaan kereta api menjadi penyebab paling umum. Secara nasional, amputasi traumatis mencakup 70,3 persen dari semua kasus amputasi, dengan amputasi tungkai bawah mencapai 94,8 persen dari semua kasus.

Kisah Ragini tidak hanya menyoroti tekad luar biasa seorang anak untuk mendapatkan pendidikan, tetapi juga mengungkap kesenjangan dalam sistem dukungan bagi penyandang disabilitas di India, terutama di wilayah pedesaan. Meskipun bantuan telah mulai berdatangan, kasus ini mengingatkan akan perlunya perbaikan akses dan implementasi program-program pemerintah yang sudah ada.

Kemiskinan
← Kembali ke Pendidikan

Berita lainnya