Investasi Pendidikan Rp 5.395 Triliun Belum Dongkrak Kemampuan Nalar Siswa Indonesia
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 mengungkap fakta yang mengganjal tentang pendidikan Indonesia. Meskipun 80 persen siswa mengaku ingin tahu tentang banyak hal dan 74 persen menyatakan siap berusaha lebih keras menghadapi tantangan, capaian mereka dalam matematika, membaca, dan sains tetap stagnan di level 2022 dan masih di bawah pencapaian tahun 2015.
Temuan ini memunculkan pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya terjadi dalam sistem pendidikan nasional?
Anak-anak Indonesia tidak kehilangan rasa ingin tahu atau semangat belajar. Yang menjadi masalah adalah kemampuan sistem pendidikan mengubah motivasi tersebut menjadi nalar—kemampuan memahami persoalan, menghubungkan informasi, menimbang bukti, lalu mengambil keputusan yang tepat.
Mayoritas Siswa Belum Capai Kompetensi Dasar
Data PISA 2025 menunjukkan hanya 17 persen siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih untuk matematika, 27 persen untuk membaca, dan 37 persen untuk sains. Level 2 merupakan ambang batas kompetensi dasar PISA, yaitu tingkat ketika siswa mulai mampu menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi persoalan sederhana yang familiar.
Ini berarti mayoritas siswa Indonesia belum mencapai tingkat kompetensi dasar yang diukur PISA. Lebih mengkhawatirkan lagi, sejak 2015 proporsi siswa di bawah Level 2 justru meningkat: 14 poin persentase dalam matematika, 18 poin dalam membaca, dan 7 poin dalam sains.
Kondisi inilah yang disebut sebagai "nalar mandek"—situasi di mana motivasi belajar ada, tetapi tidak berhasil diterjemahkan menjadi kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Anggaran Besar, Hasil Minim
Persoalan ini bukan karena kekurangan dana. Kementerian Keuangan mencatat bahwa anggaran pendidikan periode 2015-2023 mencapai sekitar Rp 4.006,1 triliun. Ditambah alokasi Rp 665 triliun pada 2024 dan Rp 724,3 triliun dalam APBN 2025, total investasi negara untuk pendidikan mencapai sekitar Rp 5.395,4 triliun.
Dengan angka sebesar itu, seharusnya ada peningkatan signifikan dalam kualitas pembelajaran. Namun kenyataannya, capaian siswa justru stagnan bahkan menurun di beberapa bidang.
Peran Keluarga yang Memudar
Kesalahan umum dalam memandang masalah pendidikan adalah terlalu fokus menyalahkan sekolah. Padahal, anak tidak hanya belajar di sekolah. Mereka belajar dari rumah, teman sebaya, lingkungan, dan pengalaman hidup sehari-hari.
PISA memberikan sinyal menarik terkait hal ini. Hanya 48 persen siswa Indonesia yang mengatakan bahwa orangtua atau wali menanyakan aktivitas mereka di sekolah setidaknya sekali seminggu. Lebih memprihatinkan, hanya 36 persen yang berdiskusi dengan orangtua mengenai masalah yang mereka hadapi di sekolah. Angka ini menurun drastis dari 2022 yang masih berada di 57 persen dan 48 persen.
Penurunan keterlibatan orangtua ini mencerminkan memudarnya peran keluarga sebagai pilar pendidikan. Temuan ini mengingatkan pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang tiga sentra pendidikan: alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda. Pendidikan sejati bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan kolaborasi antara ketiga elemen tersebut.
Kurikulum Berganti, Masalah Tetap Ada
Selama periode yang sama, Indonesia telah berganti kurikulum beberapa kali. Dari Kurikulum 2013, Kurikulum Darurat (masa pandemi), hingga Kurikulum Merdeka yang kini diterapkan secara bertahap. Setiap pergantian kurikulum dijanjikan akan membawa perubahan fundamental dalam kualitas pembelajaran.
Namun hasil PISA membuktikan bahwa pergantian kurikulum saja tidak cukup jika tidak disertai penguatan ekosistem pendidikan secara menyeluruh. Persoalan bukan hanya di konten kurikulum, tetapi juga di implementasi, kualitas pengajaran, keterlibatan orangtua, dan dukungan lingkungan belajar.
Mengembalikan Nalar yang Mandek
Untuk mengubah situasi ini, diperlukan pendekatan holistik yang melibatkan semua pihak. Sekolah perlu menerapkan metode pembelajaran yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi melatih siswa berpikir kritis, menganalisis informasi, dan memecahkan masalah.
Keluarga harus kembali berperan aktif. Komunikasi rutin antara orangtua dan anak tentang aktivitas sekolah, diskusi mengenai tantangan yang dihadapi, dan dukungan emosional sangat penting untuk mengembangkan kemampuan nalar anak.
Pemerintah perlu memastikan bahwa anggaran pendidikan yang triliunan rupiah itu benar-benar efektif sampai ke tingkat kelas dan siswa. Investasi tidak hanya pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada pelatihan guru, pengembangan metode pengajaran, dan penguatan ekosistem pendidikan di keluarga dan masyarakat.
Rasa ingin tahu dan semangat belajar anak-anak Indonesia sudah ada. Yang dibutuhkan sekarang adalah sistem yang mampu mengubah semangat itu menjadi kemampuan nalar yang kuat—kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mengambil keputusan yang tepat. Tanpa itu, investasi triliunan rupiah dan pergantian kurikulum hanya akan menjadi ritual tanpa makna.












