Mendikdasmen Usung Konsep STEM 5M untuk Pendidikan Anak Usia Dini
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, yang dilantik pada 21 Oktober 2024 dan juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Muhammadiyah periode 2022-2027, mengumumkan rencana pengenalan pembelajaran Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) sejak jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Langkah ini merupakan bagian dari inisiatif nasional yang lebih luas untuk mengintegrasikan STEM ke dalam pendidikan anak usia dini guna mendukung program wajib belajar 13 tahun Indonesia. Program ini bertujuan membangun kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan adaptabilitas pada peserta didik sejak usia dini.
Mu'ti menjelaskan bahwa pembelajaran STEM di PAUD akan mengusung konsep STEM 5M, yakni STEM yang mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful. Pendekatan ini dirancang khusus untuk mengatasi anggapan bahwa pembelajaran sains memerlukan peralatan mahal dan rumit.
"Kalau bicara teori growth mindset, kata kunci pertama untuk memulai sesuatu adalah membangun mindset-nya dulu. Sehingga mindset itu kami ubah dengan sains itu mudah dan sains itu murah," kata Mu'ti dalam keterangan tertulis yang dikutip dari Antara, Kamis (3/9/2026).
Teori growth mindset yang dikembangkan Carol Dweck dari Universitas Stanford menunjukkan bahwa orang yang percaya kecerdasan dapat ditingkatkan melalui usaha akan berupaya lebih keras dalam belajar dibandingkan mereka yang menganggap kecerdasan bersifat tetap. Indonesia telah menerapkan beberapa intervensi berbasis growth mindset yang menunjukkan dampak signifikan terhadap prestasi akademik siswa.
Pemanfaatan Fenomena Sehari-hari
Menurut Mu'ti, sekolah tidak perlu membeli peralatan laboratorium atau Alat Permainan Edukatif (APE) dengan harga tinggi untuk menerapkan pembelajaran STEM. Seluruh lembaga pendidikan dapat memanfaatkan berbagai benda dan fenomena alam sehari-hari sebagai media pembelajaran.
"Pembelajaran STEM juga bisa berasal dari fenomena banjir, hujan misalnya. Jadi STEM itu tidak harus selalu di ruangan laboratorium yang canggih, mahal. Itu tidak salah, tapi tidak harus begitu STEM itu," ujarnya.
Pendekatan ini sejalan dengan karakteristik PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang dirancang untuk anak usia 0-6 tahun, dengan fokus pada pengembangan holistik meliputi kemampuan kognitif, sosial, emosional, dan fisik melalui kegiatan berbasis bermain.
Mulai tahun ajaran 2026/2027, PAUD resmi menjadi bagian dari kebijakan wajib belajar 13 tahun Indonesia, dengan kurikulum yang dirancang untuk satu tahun pembelajaran yang terdiri dari kegiatan intrakurikuler dan ko-kurikuler.
Tidak Hanya Kognitif
Mu'ti menekankan bahwa materi STEM di PAUD tidak boleh didominasi oleh konten pengetahuan kognitif semata. Pembelajaran harus dipadukan dengan berbagai kegiatan yang melibatkan pancaindra murid, imajinasi, dan interaksi antarmurid.
Pendekatan ini didukung oleh penelitian terkini yang menunjukkan bahwa pembelajaran STEM/STEAM di pendidikan anak usia dini mendorong pengembangan holistik dengan mengintegrasikan eksplorasi ilmiah, ekspresi artistik, dan keterlibatan teknologi. Studi menunjukkan bahwa pendekatan ini meningkatkan kreativitas, pemikiran kritis, dan literasi digital pada peserta didik muda.
"Jangan jejali pembelajaran STEM di TK nanti dengan berbagai macam konten yang sifatnya pengetahuan kognitif, perbanyaklah ruang gerak mereka, perbanyaklah ruang imajinasi mereka, perbanyaklah ruang interaksi mereka dengan sesama," tegas Mu'ti.
Ia menegaskan bahwa pembelajaran STEM pada dasarnya bertujuan membangun rasa ingin tahu dan menanamkan kesadaran terhadap lingkungan sekitar yang nyata. Melalui pendekatan ini, murid PAUD diharapkan dapat memahami dan menerapkan prinsip-prinsip sederhana STEM dalam kehidupan sehari-hari.
Implementasi Konkret
Untuk mendukung peluncuran program ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tengah membangun ruang belajar kreatif di 50 sekolah dasar dan memperbarui materi pembelajaran digital guna mendukung implementasi STEM di pendidikan anak usia dini.
Inisiatif ini juga dilatarbelakangi oleh tantangan yang dihadapi sistem pendidikan Indonesia. Data menunjukkan bahwa siswa Indonesia berkinerja lebih rendah dalam asesmen internasional seperti PISA dibandingkan negara-negara tetangga di kawasan. Data PISA menunjukkan bahwa mayoritas siswa Indonesia berusia 15 tahun tidak percaya bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat dikembangkan.
Kajian komprehensif tentang implementasi pendidikan STEM di Indonesia periode 2015-2020 menemukan 597 artikel penelitian, dengan 154 artikel memenuhi kriteria analisis. Kajian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan STEM telah diterapkan sebagai strategi dan pendekatan pembelajaran, diintegrasikan dengan model pembelajaran lain, serta dikembangkan menjadi bahan ajar dan media pembelajaran.
Menurut keputusan menteri terkait, PAUD diselenggarakan untuk membentuk generasi yang tangguh, memajukan kualitas hidup anak, serta mempersiapkan dan mengembangkan potensi fisik dan spiritual secara optimal. Banyak negara telah mengintegrasikan pendidikan STEM ke dalam kebijakan dan kurikulum pendidikan mereka mengingat kemajuan pesat di bidang STEM dan peluang pekerjaan yang tersedia.












