Netralitas Indonesia Dipertanyakan Setelah Latihan Angkatan Laut dengan China
Pada 12 Agustus 2026, fregat TNI Angkatan Laut KRI I Gusti Ngurah Rai bergabung dalam latihan singkat dengan fregat berpeluru kendali milik Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAN), Honghe, di perairan lepas pantai timur Taiwan. Kegiatan yang disebut Jakarta sebagai "passing exercise" ini terjadi bersamaan dengan latihan militer tahunan Taiwan, Han Kuang.
Manuver tersebut segera memicu reaksi diplomatik dari Taipei. Taiwan meminta penjelasan resmi dari pemerintah Indonesia mengenai alasan keikutsertaan dalam latihan di lokasi yang sangat sensitif secara geopolitik.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia mengakui bahwa pemerintah sepenuhnya menyadari sensitivitas lokasi latihan tersebut. Namun, pihaknya menegaskan bahwa kehadiran kapal Indonesia "semata-mata merupakan bagian dari rute transitnya untuk kembali ke Indonesia" setelah mengikuti latihan bersama Angkatan Laut Rusia di Vladivostok.
Taiwan Mengecam Provokasi Beijing
Dewan Urusan Daratan Taiwan (Mainland Affairs Council) mengecam apa yang disebutnya sebagai "provokasi" Beijing setelah China mengumumkan latihan tersebut pada 11 Agustus. Kementerian Luar Negeri Taiwan meminta "informasi lebih lanjut dari pemerintah Indonesia" terkait insiden ini.
Ketegangan di Selat Taiwan terus meningkat karena Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah China dan telah berjanji untuk "menyatukan kembali" pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut dengan daratan China, termasuk dengan menggunakan kekuatan jika diperlukan. Tentara Pembebasan Rakyat China semakin meningkatkan tekanan terhadap Taiwan melalui latihan-latihan militer yang kerap dilakukan di sekitar pulau, terutama sejak mantan Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengunjungi Taipei pada 2022.
Respons Indonesia
Merespons reaksi dari Taipei dan Washington, TNI Angkatan Laut menyatakan bahwa aktivitasnya bersama Angkatan Laut China "bukan merupakan kegiatan perang" dan "tidak dimaksudkan sebagai latihan tempur."
Ying-Yu Lin, associate professor di Graduate Institute of International Affairs and Strategic Studies, Tamkang University Taiwan, menilai bahwa latihan China bersama Indonesia tersebut memiliki signifikansi taktis yang kecil. "Latihan itu tidak sepraktis latihan maritim bersama, tetapi China ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan di perairan tersebut," ujarnya.
Indonesia Terseret ke Geopolitik Sensitif
Ratih Kabinawa, visiting research fellow di Japan Institute of International Affairs yang berfokus pada hubungan Taiwan-Indonesia, berpendapat bahwa terlepas dari seberapa penting latihan tersebut secara militer, Indonesia seharusnya sudah memperkirakan bahwa Taiwan akan memberikan reaksi.
Insiden ini menempatkan Indonesia dalam posisi yang sulit dalam menjaga netralitasnya di tengah rivalitas geopolitik yang semakin tajam antara China dan blok Barat, terutama AS dan sekutunya di kawasan Indo-Pasifik. Keikutsertaan dalam latihan di lokasi yang sangat sensitif ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana Indonesia akan menyeimbangkan hubungan diplomatiknya dengan berbagai pihak yang berkonflik.












