Serabi Notosuman Ny. Handayani Bertahan 103 Tahun dengan Resep Turun-Temurun
Serabi Notosuman Ny. Handayani telah menjadi ikon kuliner Solo, Jawa Tengah, selama lebih dari satu abad. Sejak didirikan pada 1923, usaha keluarga ini konsisten mempertahankan resep dan cita rasa yang diwariskan lintas generasi, meskipun tren kuliner terus berubah.
"Resepnya ya itu-itu saja dan rasanya juga itu-itu saja," ujar Yohana Mayin, pemilik generasi keempat Serabi Notosuman Ny. Handayani, saat ditemui di acara Kampoeng Tempo Doeloe (KTD) JF3 Food Festival 2026 di La Piazza, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (19/8/2026).
Yohana menegaskan komitmennya untuk mempertahankan cita rasa serabi sesuai resep warisan leluhur. Pesan dari neneknya masih ia pegang hingga kini: tidak perlu menghadirkan varian aneh-aneh, cukup rasa putih dan original yang sudah terbukti bertahan.
Berawal dari Jualan di Emperan Rumah
Kisah Serabi Notosuman bermula pada 1923, ketika nenek buyut Yohana mulai membuat dan menjual serabi di kawasan Jalan Notosuman, Solo. Serabi dijajakan di pinggir jalan, dan nama kawasan tersebut kemudian melekat sebagai identitas kuliner yang kini dikenal luas.
Menariknya, serabi buatan nenek buyut Yohana sempat dikenal dengan sebutan "serabi inggris" karena pengaruh era penjajahan Inggris. Kini, jalan tersebut lebih dikenal sebagai Jalan Mohammad Yamin.
"Terus lama-lama nenek saya yang gantiin. Terus tahun 1980-an lah kira-kira, itu mama saya, Bu Handayani, yang gantiin, habis itu adik-adiknya juga ikut meneruskan bisnis keluarga," jelas Yohana.
Produksi Mencapai 4.000 Serabi Per Hari
Dalam sehari, Serabi Notosuman Ny. Handayani menghabiskan sekitar 200 kilogram adonan yang menghasilkan sekitar 4.000 serabi. Pembuatan serabi dilakukan secara bertahap, dengan setiap serabi memerlukan waktu sekitar tiga menit untuk matang.
Varian yang terbatas—hanya original dan cokelat—membuat proses produksi lebih efisien. Pembeli tidak perlu mengantre lama untuk menikmati camilan khas Solo ini. "Kalau ada topping-toppingnya susah, matangnya lama," kata Yohana.
Harga serabi ini terjangkau, mulai dari Rp 3.000 per buah atau sekitar Rp 30.000-an untuk satu paket berisi 10 buah. Penikmat serabi notosuman datang dari warga lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke Solo.
Saat ini, gerai Serabi Notosuman Ny. Handayani tidak hanya berada di Solo, tetapi juga tersebar di Surabaya, Magelang, Kediri, Purwodadi, Klaten, dan Bandung.
Generasi Kelima Hadirkan Varian Baru
Dua tahun belakangan, generasi kelima dari keluarga ini membuat terobosan baru tanpa membawa nama "Notosuman". Mereka mencetuskan merek baru bernama "Serabi Nyonya Handayani" dengan varian yang lebih beragam untuk menyasar kalangan anak muda.
"Anak-anak saya itu coba branding Nyonya Handayani gitu. Jadi Serabi Nyonya Handayani," ujar Yohana.
Varian yang ditawarkan meliputi original, cokelat, pisang, keju, hingga nangka. Gerai pertama Serabi Nyonya Handayani bukan di Solo, melainkan di Malang dan Bali.
Melewati Tantangan Pandemi dan Kenaikan Harga Bahan
Perjalanan usaha kuliner selama 103 tahun tidak selalu mulus. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu tantangan terbesar ketika pembeli menurun akibat pembatasan aktivitas. Tidak lama berselang, harga bahan baku juga mengalami kenaikan.
Pengelola memilih bertahan dan tidak menaikkan harga secara drastis karena memahami kondisi ekonomi masyarakat. Kini pembeli kembali ramai, meski harga bahan baku masih menjadi tantangan.
"Paling naik sedikit lah ya karena harga bahan plastik naik. Dari Rp 3.000 jadi Rp 3.200," kata Yohana. Ia menegaskan pihaknya tidak ingin mengorbankan kualitas demi menekan biaya produksi.
Lebih dari sekadar makanan manis, Serabi Notosuman Ny. Handayani kini menjadi bagian penting dari perjalanan kuliner Solo yang legendaris dan terus dinanti penikmatnya.












