Ekonomi

3 menit baca

Siti Rahmawati

Adhi Karya Targetkan Penyelesaian Restrukturisasi Keuangan September 2026

PT Adhi Karya (Persero) Tbk menargetkan penyelesaian restrukturisasi keuangan pada September 2026 sebagai langkah penyehatan perusahaan yang mencatat kerugian bersih Rp 5,40 triliun pada 2025. Danantara mengarahkan BUMN konstruksi ini untuk fokus pada bisnis inti dan menghentikan pembentukan anak p…

6a9a4630d81d1.png

Adhi Karya Targetkan Penyelesaian Restrukturisasi Keuangan September 2026

PT Adhi Karya (Persero) Tbk tengah menjalani proses restrukturisasi keuangan yang ditargetkan selesai pada bulan September 2026. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi dan menyehatkan kondisi keuangan perusahaan konstruksi milik negara yang didirikan pada 1960 dan menjadi perusahaan konstruksi pertama yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 2004.

Urgensi restrukturisasi semakin mendesak setelah Adhi Karya mencatat kerugian bersih sebesar Rp 5,40 triliun pada tahun 2025, meningkat drastis dari kerugian Rp 86,8 miliar pada tahun sebelumnya. Kondisi keuangan yang memburuk juga menyebabkan Bursa Efek Indonesia menangguhkan perdagangan saham Adhi Karya pada 24 Agustus 2026, setelah perusahaan menunda pembayaran bunga obligasi senilai Rp 60,8 miliar yang jatuh tempo pada tanggal tersebut.

Danantara Instruksikan Fokus pada Bisnis Inti

Dalam rapat bersama jajaran direksi Adhi Karya pada Kamis, 3 September 2026, Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia Dony Oskaria menegaskan bahwa perusahaan harus menghentikan pembentukan anak perusahaan baru dan kembali fokus pada bisnis inti sebagai kontraktor.

Danantara Indonesia, yang dibentuk melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 pada 24 Februari 2025 sebagai badan pengelola investasi strategis yang dimodelkan dari Temasek Singapura, saat ini mengelola 47 holding BUMN dalam upaya konsolidasi dan simplifikasi struktur perusahaan negara.

Setiap bikin anak perusahaan semuanya bermasalah. Jadi setop, tidak boleh lagi ada anak-anak perusahaan baru, dan Adhi fokus pada kontraktor.

Pernyataan tersebut disampaikan Dony, mengutip unggahan video di akun Instagram resmi BP BUMN.

Penyederhanaan Struktur Grup

Adhi Karya saat ini mempercepat proses penyederhanaan untuk memperkuat struktur dan fokus bisnis. Penataan dilakukan secara bertahap dengan menata struktur grup yang saat ini terdiri dari 18 entitas menuju struktur yang lebih terintegrasi. Direktur Utama PT Adhi Karya Moeharmein Zein Chaniago menjelaskan bahwa perusahaan memiliki tujuh anak perusahaan, satu cicit dari turunan salah satu anak perusahaan, dan 10 perusahaan afiliasi.

Penataan struktur usaha mencakup divestasi sejumlah aset dan bisnis, konsolidasi anak usaha, serta konsolidasi portofolio properti di bawah Danantara. Langkah ini sejalan dengan target pemerintah untuk mengurangi jumlah perusahaan BUMN dan anak usahanya dari lebih dari 1.000 entitas menjadi sekitar 250 dalam program restrukturisasi nasional yang lebih luas.

Uji Tuntas Anak Perusahaan Properti

Anak perusahaan Adhi Karya di sektor properti, termasuk PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP), akan menjalani uji tuntas untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi perusahaan sebagai dasar penentuan langkah selanjutnya.

ADCP menghadapi tekanan likuiditas serius dengan arus kas operasional negatif yang berdampak pada penyelesaian proyek Transit Oriented Development (TOD). Model bisnis TOD yang capital intensive mengharuskan korporasi menyediakan kawasan lahan di sekitar stasiun transportasi umum beserta infrastruktur pendukungnya.

Permasalahan anak usaha properti ini berdampak langsung pada konsumen. Sekitar 2.400 konsumen proyek Apartemen LRT City yang dikembangkan ADCP belum menerima unit hunian yang telah dipesan, dengan sebagian besar dijanjikan serah terima pada periode 2023-2024.

Akar Masalah dan Kondisi Keuangan

Kesulitan keuangan yang dihadapi Adhi Karya berakar dari era pembangunan infrastruktur agresif masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, dengan dampak diperparah oleh pandemi COVID-19 yang menyebabkan penurunan pendapatan dan keterlambatan proyek konstruksi.

Data keuangan menunjukkan rasio utang terhadap ekuitas Adhi Karya berada di level tinggi, dengan total utang mencapai sekitar Rp 2,08 triliun. Kondisi ini memperkuat urgensi restrukturisasi yang sedang berjalan.

Proses restrukturisasi dan penyederhanaan struktur diharapkan dapat membuat kondisi Adhi Karya menjadi lebih sehat sehingga perusahaan dapat kembali berfokus pada bisnis utamanya di sektor konstruksi, sesuai dengan bidang keahlian inti yang telah dibangun sejak pendiriannya lebih dari enam dekade lalu.

DanantaraBUMN
← Kembali ke Ekonomi

Berita lainnya