Video Tanah Longsor Diklaim Terjadi di Palembang Ternyata Hoaks
Sebuah video yang memperlihatkan jalan raya hancur terseret tanah longsor viral di media sosial dengan klaim bahwa peristiwa tersebut terjadi di Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada 30 September 2026. Namun, klaim tersebut tidak benar.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, tidak ada pemberitaan mengenai bencana tanah bergerak di Palembang pada tanggal tersebut. Video yang disebarkan sebenarnya merekam peristiwa yang terjadi di Kabupaten Suichuan, Provinsi Jiangxi, China, pada 5 September 2026.
Penyebaran Hoaks di Media Sosial
Video tersebut dibagikan oleh sejumlah akun Facebook dengan narasi yang menyebutkan "Palembang tanah bergerak. Tanah bergerak Terjadinya longsor". Klaim ini menyesatkan karena mengaitkan peristiwa di China dengan kota berpenduduk lebih dari 600.000 jiwa yang merupakan kota terbesar kedua di Sumatera dan kota terbesar kesembilan di Indonesia.
Hoaks semacam ini menambah catatan panjang misinformasi di Indonesia. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat bahwa antara Agustus 2018 hingga Juni 2023, telah teridentifikasi 11.759 konten hoaks dengan kategori terbanyak adalah kesehatan, pemerintahan, dan penipuan. Survei Kemenkominfo tahun 2022 juga menunjukkan bahwa 45 persen responden Indonesia merasa tidak yakin dengan kemampuan mereka mengidentifikasi berita hoaks.
Fakta Sebenarnya: Bencana di China Akibat Topan Saudel
Video yang viral tersebut pertama kali diunggah di Facebook pada 8 September 2026 dengan keterangan yang benar, yaitu peristiwa longsor di Kabupaten Suichuan, Provinsi Jiangxi, China. Bencana tersebut terjadi pada 5 September 2026 sekitar pukul 04.00 waktu setempat, merusak 12 rumah di Desa Mingkeng.
Longsor dahsyat ini merupakan dampak dari Topan Saudel yang melanda China. Topan tersebut mendarat tiga kali di daratan China pada akhir Agustus dan awal September 2026—dua kali di Provinsi Zhejiang pada 28 Agustus dan sekali di Provinsi Fujian pada 3 September sebagai badai tropis.
Saudel adalah topan ketujuh yang menghantam China pada 2026 dan yang ketiga melanda kota Yuhuan di Zhejiang timur dalam kurun waktu kurang dari dua bulan. Menurut Administrasi Meteorologi China, rangkaian topan ini sangat langka secara meteorologis dan dikaitkan dengan fenomena El Niño.
Korban dan Upaya Evakuasi
Bencana di Kabupaten Suichuan menewaskan 16 orang—13 tewas di kota Gaoping, dua di kota Zuo'an, dan satu di kota Tanghu. Lebih dari 18.000 orang dievakuasi dari wilayah tersebut menyusul longsor dan banjir lumpur.
Media pemerintah China CGTN melaporkan bahwa warga yang terdampak telah direlokasi dengan aman, meskipun operasi penyelamatan terhambat oleh jalan yang tertutup longsor dan jaringan komunikasi yang terputus. Akses jalan dan layanan telekomunikasi telah dipulihkan setelah upaya intensif tim penyelamat.
Sebelum Topan Saudel mendarat di Fujian, otoritas China telah mengevakuasi sekitar 247.700 orang dari wilayah berisiko tinggi sebagai langkah antisipasi terhadap hujan lebat dan ancaman banjir bandang serta longsor.
Pola Penyebaran Disinformasi
Kasus ini menunjukkan bagaimana video dari peristiwa nyata dapat disalahgunakan dengan mengubah konteks lokasi dan waktu kejadian. Amnesty International dalam laporannya bulan Mei 2026 mencatat bahwa kampanye disinformasi terkoordinasi di Indonesia melibatkan ratusan akun media sosial yang bertindak secara bersamaan untuk menyebarkan informasi palsu, yang kemudian diamplifikasi di berbagai platform seperti Instagram, Facebook, X, TikTok, dan YouTube.
Masyarakat diimbau untuk selalu memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, terutama konten yang bersifat sensasional atau mengejutkan. Periksa sumber berita resmi dan gunakan fitur pencarian gambar terbalik untuk menelusuri asal-usul video atau foto yang beredar.












