Singapura Alokasikan Rp 1,3 Triliun untuk Robot Humanoid Pembantu Polisi
Singapura resmi membuka fasilitas pelatihan dan pengembangan robot humanoid bertenaga kecerdasan buatan untuk mendukung operasi keselamatan publik. Negara yang menempati posisi kedua terkaya di dunia berdasarkan PDB per kapita 2025 versi The Economist ini menargetkan robot humanoid pertamanya dapat beroperasi penuh bersama petugas lapangan pada 2028.
Pengumuman rencana operasional robot humanoid ini disampaikan bersamaan dengan peresmian pusat fasilitas Home Team Humanoid Robotics Centre (H2RC) yang terletak di distrik teknologi one-north pada Selasa (30/9/2026). Pusat fasilitas seluas 2.694 meter persegi tersebut dikelola langsung oleh Home Team Science and Technology Agency (HTX). Untuk mendukung riset dan pengembangan robotika ini, pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar 100 juta dolar Singapura atau sekitar Rp 1,3 triliun.
Menteri Kedua Urusan Dalam Negeri Singapura, Edwin Tong, menyatakan bahwa fasilitas ini merupakan pusat pertama di dunia yang secara khusus didedikasikan untuk pengembangan robot humanoid di bidang keselamatan publik.
Tujuan kami jelas, kami bertujuan untuk memiliki robot humanoid pertama yang bekerja bersama petugas Home Team dalam lingkungan operasional nyata, menjalankan tugas-tugas yang ditentukan secara aman dan andal pada tahun 2028
ujar Edwin Tong dalam pidato resminya yang dipublikasikan oleh Kementerian Urusan Dalam Negeri Singapura.
Tugas Berbahaya dan Deteksi Barang Terlarang
Dalam acara pembukaan H2RC, sebanyak empat robot humanoid yang sedang dikembangkan dipamerkan kepada publik. Robot-robot bertenaga AI ini dirancang untuk menangani pekerjaan yang berisiko tinggi, fisik yang berat, maupun tugas-tugas rutin.
Di sektor penanggulangan bencana, Pasukan Pertahanan Sipil Singapura (Singapore Civil Defence Force/SCDF) akan memanfaatkan robot humanoid untuk menangani, mengamankan, serta mengambil sampel bahan berbahaya. Kehadiran robot ini dioperasikan untuk meminimalkan paparan zat beracun bagi petugas.
Selain itu, robot humanoid kepolisian dapat dikirim ke area ledakan yang tidak stabil untuk mengumpulkan barang bukti. Langkah ini memangkas risiko keselamatan personel kepolisian dari ancaman ledakan susulan atau struktur bangunan yang runtuh.
Salah satu keunggulan robot yang didemonstrasikan di H2RC adalah kemampuannya untuk berlutut dan mengambil objek di permukaan tanah. Pihak HTX mengklaim bahwa kemampuan fisik khusus ini belum dimiliki oleh robot humanoid komersial yang ada di pasaran saat ini.
Di samping tugas darurat, robot humanoid ini juga diproyeksikan untuk melakukan pencarian barang terlarang di dalam sel penjara serta membantu mengisi ulang pasokan medis darurat di armada ambulans.
Teknologi Embodied AI dan Agentic AI
Bentuk fisik robot yang menyerupai manusia sengaja dipilih agar robot humanoid dapat beroperasi dengan mudah di lingkungan yang dirancang untuk manusia. Hal ini memungkinkan robot menggunakan peralatan operasional yang sudah ada tanpa perlu mengubah atau meredesain tata ruang infrastruktur.
Robot-robot ini dikembangkan menggunakan teknologi embodied AI, yang memungkinkan mesin mempersepsikan lingkungan sekitar, bernalar, dan mengambil tindakan secara adaptif di dunia nyata, bukan sekadar mengandalkan instruksi yang terprogram sejak awal. Teknologi ini memungkinkan robot untuk beradaptasi dengan situasi yang berubah-ubah dan mengambil keputusan secara mandiri dalam konteks operasional yang kompleks.












