Kependudukan

3 menit baca

Ratna Sari

China Didesak Naikkan Subsidi Anak Jadi Rp 190 Juta untuk Atasi Krisis Demografi

Para pakar demografi mendesak pemerintah China menaikkan subsidi pengasuhan anak secara drastis menjadi Rp 190 juta per anak. Langkah ini dinilai mendesak karena angka kelahiran terus merosot dan populasi menyusut sejak 2022.

63fbf83da1f7f.jpg

Tren Demografi yang Mengkhawatirkan

Pemerintah China menghadapi desakan kuat dari para pakar demografi untuk menaikkan subsidi pengasuhan anak secara drastis. Langkah ini dinilai mendesak guna membendung krisis angka kelahiran yang kian mendalam di negara berpenduduk terbesar dunia tersebut.

Para akademisi memperingatkan bahwa tanpa intervensi kebijakan yang signifikan, tingkat fertilitas China berisiko merosot ke posisi terendah di dunia dalam beberapa tahun mendatang.

Kondisi demografi China terus menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Dalam satu dekade terakhir, angka kelahiran tahunan di negara tersebut merosot lebih dari separuh. Data menunjukkan kelahiran menurun dari hampir 18 juta pada 2016 menjadi sekitar 7,92 juta pada 2025, penurunan lebih dari 55 persen dalam kurang dari satu dekade.

Populasi China mencapai puncaknya pada 2021 dengan 1,4126 miliar jiwa, dan telah menyusut setiap tahun sejak 2022. Ini menandai penurunan populasi pertama sejak masa kelaparan pada 1960-an. Kematian telah melebihi kelahiran setiap tahun sejak 2022, mencerminkan pembalikan demografis yang bersejarah bagi negara tersebut.

Saat ini, tingkat fertilitas total China berada di angka 1,0, jauh di bawah tingkat penggantian populasi sebesar 2,1 yang dibutuhkan untuk menjaga stabilitas jumlah penduduk. Tingkat fertilitas negara ini telah berada di bawah tingkat penggantian sejak 1990-an, dengan kesenjangan yang melebar signifikan sejak 2016 meskipun ada perubahan kebijakan yang memperbolehkan lebih banyak anak.

Proyeksi Jangka Panjang yang Suram

Perserikatan Bangsa-Bangsa memproyeksikan populasi China akan menurun 10,5 persen menjadi sekitar 1,26 miliar pada 2050. Proyeksi jangka panjang bahkan lebih mengkhawatirkan, dengan perkiraan populasi bisa turun menjadi sekitar 633-634 juta pada 2100, kurang dari separuh tingkat saat ini.

Penuaan populasi juga menambah tekanan. Diperkirakan pada 2050, sekitar 520 juta orang di China akan berusia 60 tahun atau lebih, memberikan beban signifikan pada sistem pensiun negara.

Subsidi yang Ada Dinilai Tidak Cukup

Pemerintah pusat telah memperkenalkan subsidi pengasuhan anak secara nasional sejak tahun lalu, sebesar 3.600 yuan (Rp 9,5 juta) per tahun untuk setiap anak yang lahir pada atau setelah 1 Januari 2025 hingga berusia tiga tahun. Total bantuan ini mencapai 10.800 yuan (Rp 28,5 juta) per anak. Beberapa pemerintah daerah juga menambahkan subsidi mandiri.

Namun, skema yang berlaku saat ini dinilai jauh dari cukup untuk meringankan beban ekonomi orangtua. Para peneliti mendesak Beijing untuk meningkatkan subsidi hingga mencapai tingkat yang lebih kompetitif secara regional.

Belajar dari Negara Tetangga

Para peneliti mendesak Beijing untuk mengambil pelajaran dari negara tetangga seperti Singapura dan Korea Selatan, yang sama-sama menghadapi krisis demografi serupa tetapi bertindak lebih agresif lewat kebijakan pronatalis.

Singapura mengumumkan pada Agustus 2026 bahwa setiap anak Singapura akan menerima hingga SGD 62.000 (sekitar Rp 732 juta) dalam bentuk dukungan langsung di bawah Paket Dukungan Anak SG yang baru, dengan total manfaat mencapai sekitar SGD 70.000 ketika digabungkan dengan dukungan yang ada.

Korea Selatan mencatatkan tingkat fertilitas 0,72 pada 2023, salah satu yang terendah di dunia. Namun, negara tersebut mulai menunjukkan pemulihan dengan tingkat fertilitas naik menjadi 0,75 pada 2024 dan 0,80 pada 2025, menandai peningkatan berkelanjutan pertama setelah bertahun-tahun menurun, meskipun masih jauh di bawah tingkat penggantian.

Perubahan Kebijakan yang Terlambat

China mengakhiri kebijakan satu anak yang berlangsung selama beberapa dekade pada 2016, memperkenalkan batas dua anak pada tahun yang sama. Pada 2021, pemerintah memperbolehkan pasangan untuk memiliki hingga tiga anak sebagai bagian dari upaya mengatasi penurunan populasi.

Namun, perubahan kebijakan ini terbukti tidak cukup untuk membalikkan tren. Masalah fertilitas rendah bukan hanya tantangan China, tetapi fenomena global. Diperkirakan dua pertiga populasi dunia kini tinggal di negara dengan tingkat fertilitas di bawah tingkat penggantian 2,1, menjadikan fertilitas rendah sebagai fenomena global dan bukan hanya unik bagi China.

Dengan tekanan demografis yang terus meningkat dan dampak ekonomi jangka panjang yang mengancam, para ahli menekankan bahwa China memerlukan tindakan kebijakan yang lebih berani dan komprehensif untuk mencegah krisis populasi semakin parah.

TiongkokPerubahan Iklim
← Kembali ke Kependudukan

Berita lainnya