Geologi & Bencana

2 menit baca

Intan Permata

Pemerintah Kembangkan Genteng Ringan dari Sabut Kelapa untuk Wilayah Rawan Gempa

Presiden Prabowo Subianto tengah mengupayakan pengembangan genteng ringan berbahan sabut kelapa sebagai alternatif atap rumah di daerah rawan gempa, menjawab kebutuhan material yang aman namun tetap nyaman.

6abfb89e5d4ec.jpeg

Pemerintah Kembangkan Genteng Ringan dari Sabut Kelapa untuk Wilayah Rawan Gempa

Presiden Prabowo Subianto sedang mengupayakan pengembangan material genteng ringan untuk digunakan pada rumah-rumah di wilayah rawan gempa bumi. Inisiatif ini disampaikan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian saat menghadiri peluncuran 500.000 unit genteng di Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pada Jumat (2/10/2026).

Menurut Tito, meskipun pemerintah mendorong penggunaan genteng tanah liat untuk rumah masyarakat, terdapat tantangan khusus ketika material ini diterapkan di daerah yang rawan gempa. Masyarakat di wilayah tersebut cenderung memilih material atap yang lebih ringan seperti seng karena faktor keselamatan.

Saya muter daerah-daerah rawan gempa, mereka pilihnya yang ringan. Makanya mereka pilih seng.

Pemilihan seng memang didasari pertimbangan bobot yang ringan. Namun, material ini memiliki sejumlah kekurangan dibandingkan genteng tanah liat, terutama dari aspek kenyamanan penghuni dan nilai estetika bangunan.

Sabut Kelapa sebagai Solusi

Tito menyebutkan bahwa salah satu kemungkinan bahan yang sedang dikembangkan untuk menghasilkan genteng ringan adalah serabut kelapa.

Misalnya dari serabut kelapa yang dijadikan genteng. Itu salah satu solusi, sedang dikerjakan.

Meski demikian, untuk saat ini penggunaan genteng tanah liat tetap didorong, khususnya di wilayah yang relatif aman dari ancaman gempa bumi. Genteng tanah liat dinilai memiliki sejumlah keunggulan sebagai material penutup atap.

Keunggulan Genteng Tanah Liat

Salah satu kelebihan utama genteng tanah liat adalah kemampuannya membuat rumah lebih sejuk. Hal ini dimungkinkan karena terdapat rongga yang memungkinkan aliran udara di antara susunan genteng.

Kenapa genteng, khususnya genteng tanah liat? Nomor satu, juga layak untuk rumah hunian. Dia lebih dingin karena di tengah-tengahnya itu ada aliran udara.

Tito juga membandingkan kondisi rumah beratap genteng tanah liat dengan rumah beratap seng saat hujan turun.

Kalau seng itu kalau hujan, dia bising suaranya. Kalau genteng tanah liat, tidak. Dia gemericik air.

Pengembangan genteng berbahan sabut kelapa diharapkan dapat menjadi terobosan yang menggabungkan aspek keselamatan struktural di wilayah rawan gempa dengan kenyamanan dan estetika hunian, sehingga masyarakat tidak lagi harus memilih antara keamanan atau kenyamanan.

Prabowo SubiantoIndonesiaGempa Bumi
← Kembali ke Geologi & Bencana

Berita lainnya