Geologi & Bencana

4 menit baca

Intan Permata

Abu Vulkanik Anak Krakatau Meluas ke Jakarta dan Bengkulu, Ancam Kesehatan dan Penerbangan

Erupsi Gunung Anak Krakatau menyebarkan abu vulkanik hingga Jakarta, Jawa Barat, dan Bengkulu. PVMBG memetakan dua klaster sebaran abu pada ketinggian berbeda, mengancam kesehatan pernapasan dan keselamatan penerbangan.

6a912826a391b.jpg

Abu Vulkanik Anak Krakatau Meluas ke Jakarta dan Bengkulu, Ancam Kesehatan dan Penerbangan

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali meningkat, memicu kekhawatiran serius setelah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mendeteksi dua klaster sebaran abu vulkanik yang menjangkau wilayah luas dari Banten, Jakarta, Jawa Barat, hingga sejumlah provinsi di Sumatera.

Gunung yang pertama kali muncul di atas permukaan laut pada 1929 ini terbentuk di dalam kaldera yang tercipta akibat letusan dahsyat Krakatau tahun 1883. Letusan bersejarah tersebut menewaskan lebih dari 36.000 orang, sebagian besar akibat tsunami yang menyapu pesisir Sumatera dan Jawa, dengan dentuman ledakan terdengar hingga jarak 4.800 kilometer. Lebih baru lagi, pada 22 Desember 2018, erupsi Anak Krakatau memicu tsunami mematikan yang menewaskan sedikitnya 437 orang, melukai lebih dari 30.000 orang, dan mengungsikan lebih dari 30.000 penduduk.

Peta Sebaran Abu Vulkanik Meluas

Berdasarkan analisis citra RGB Himawari-9 dan pemantauan PVMBG yang berkoordinasi dengan VAAC Darwin pada Sabtu (5/9/2026) pukul 22.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran abu dengan karakteristik berbeda.

Klaster pertama pada ketinggian permukaan hingga 20.000 kaki bergerak ke arah tenggara-selatan, mencakup sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, serta perairan sekitarnya. Sementara klaster kedua pada ketinggian permukaan hingga 50.000 kaki membubung ke arah barat daya-barat laut, meliputi sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.

Pembaruan data PVMBG per Minggu (6/9/2026) pukul 05.00 WIB menunjukkan pergeseran klaster akibat perubahan dinamika angin. Klaster ketinggian permukaan hingga 20.000 kaki kini bergeser mengarah ke timur laut-selatan, mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan sekitarnya. Klaster pada ketinggian hingga 50.000 kaki terus bergerak ke arah barat daya-barat laut dengan cakupan wilayah yang sama.

Kandungan Berbahaya dalam Abu Vulkanik

Awan abu terbentuk ketika gunung berapi meletus dan melontarkan material vulkanik ke atmosfer. Material ini mengandung abu vulkanik halus, sulfur dioksida, serta serpihan-serpihan kecil batuan dan kaca yang dapat menyebar ratusan hingga ribuan kilometer dari pusat gunung berapi, bahkan menembus dari lapisan troposfer hingga stratosfer bawah.

Abu vulkanik dapat membuat langit tampak lebih gelap dan berkabut. Yang lebih mengkhawatirkan, material ini mengandung silika kristalin dalam partikel yang dapat terhirup dan mencapai paru-paru. Paparan substansial dapat menyebabkan silikosis, penyakit paru-paru yang biasanya didiagnosis pada pekerja dengan paparan berat terhadap bubuk silika di tambang dan pertambangan.

Penelitian menunjukkan paparan abu vulkanik dapat mendorong pertumbuhan bakteri di sistem pernapasan dan melemahkan kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk membatasi pertumbuhan tersebut, berpotensi meningkatkan infeksi pernapasan setelah erupsi.

Ancaman terhadap Penerbangan

Bagi dunia penerbangan, awan abu vulkanik sangat berbahaya karena dapat merusak mesin pesawat, mengganggu jarak pandang, serta memicu penundaan penerbangan hingga pengalihan rute.

Insiden bersejarah pada 24 Juni 1982 menjadi pengingat akan bahaya ini. British Airways Flight 9, sebuah Boeing 747 yang membawa 248 penumpang, terbang menembus awan abu dari Gunung Galunggung pada ketinggian 37.000 kaki. Keempat mesin pesawat mati total, dan pesawat kehilangan ketinggian sebesar 7,5 kilometer sebelum mesin berhasil dihidupkan kembali dan mendarat dengan selamat di Jakarta.

Untuk mengatasi risiko ini, International Civil Aviation Organization (ICAO) mendirikan International Airways Volcano Watch (IAVW) pada 1987. Sistem ini terdiri dari sembilan pusat penasihat abu vulkanik yang tersebar secara strategis di seluruh dunia untuk mendeteksi, melacak, dan memperingatkan pesawat terbang tentang bahaya abu vulkanik.

Dampak Kesehatan dan Langkah Perlindungan

Gejala pernapasan akut dari paparan abu vulkanik meliputi gejala asma dan bronkitis, dengan eksaserbasi penyakit paru-paru dan jantung yang sudah ada sebelumnya. Abu vulkanik dapat memicu serangan asma, menyebabkan mengi, batuk, dan iritasi pernapasan, terutama berbahaya bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru-paru seperti asma dan COPD.

Meskipun paparan abu vulkanik jarang mengancam jiwa secara langsung kecuali dalam kasus ekstrem, dampak jangka pendek yang umum mencakup iritasi pada mata dan saluran pernapasan atas. Masyarakat juga berisiko mengalami stres psikologis, terutama saat erupsi mengganggu aktivitas sosial dan ekonomi.

Berikut langkah-langkah pencegahan yang dianjurkan:

  • Sebisa mungkin hindari paparan abu vulkanik di luar ruangan
  • Tutup rapat seluruh pintu dan jendela setiap saat
  • Gunakan masker wajah yang efektif, seperti respirator N95 tersertifikasi NIOSH. Masker ini mampu menyaring setidaknya 95 persen partikel di udara dan dapat berfungsi sesuai spesifikasi desainnya selama 8 jam penggunaan berkelanjutan atau intermiten
  • Jika respirator N95 tidak tersedia, masker debu biasa dapat memberikan perlindungan terbatas, namun durasi paparan harus tetap dipersingkat
  • Penderita masalah pernapasan bawaan harus ekstra hati-hati untuk menghindari paparan abu di udara dan selalu membawa obat-obatan pribadi mereka

Dengan sebaran abu yang terus meluas dan berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat serta transportasi udara, pemahaman tentang risiko dan langkah proteksi diri menjadi sangat penting bagi warga di wilayah terdampak.

BMKGPerubahan IklimJakarta
← Kembali ke Geologi & Bencana

Berita lainnya