Sains

2 menit baca

Intan Permata

Sistem AI mHolmes Dapat Menentukan Waktu Kematian Melalui Analisis Mikroba Tubuh

Peneliti mengembangkan AI bernama mHolmes yang mampu memperkirakan waktu kematian seseorang dengan akurasi tinggi melalui analisis mikrobioma pada jasad, berpotensi merevolusi investigasi forensik.

67aeb976e7daf.jpg

Sistem AI mHolmes Dapat Menentukan Waktu Kematian Melalui Analisis Mikroba Tubuh

Sistem kecerdasan buatan terus menunjukkan perkembangan pesat dalam berbagai aplikasi ilmiah, kini merambah ke bidang forensik dengan kemampuan menentukan estimasi waktu kematian seseorang melalui analisis mikroorganisme pada jenazah.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications pada Senin (28/9/2026) memperkenalkan sistem AI bernama mHolmes. Teknologi ini dirancang untuk mengukur postmortem intervals (PMI) atau interval waktu sejak kematian dengan memanfaatkan data mikroba yang terdapat pada tubuh manusia setelah meninggal.

Dalam pengembangan sistem ini, para peneliti melatih mHolmes menggunakan data publik dari 34 jenazah manusia. Meskipun masih memerlukan riset dan pengembangan lebih lanjut, teknologi ini dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan akurasi dalam penyelidikan forensik di masa mendatang.

Kendala Metode Konvensional dalam Menentukan Waktu Kematian

Penentuan estimasi waktu kematian selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam ilmu forensik. Pakar bioinformatika dari Huazhong University of Science and Technology yang juga merupakan penulis pendamping studi, Kang Ning, menjelaskan kompleksitas proses penentuan PMI dengan pendekatan konvensional.

Memperkirakan waktu sejak kematian sangat sulit dalam ilmu forensik

ungkap Kang Ning, seperti dilansir dari Gizmodo, Rabu (30/9/2026).

Ning menambahkan bahwa metode sebelumnya yang menggunakan sampel mikrobioma hanya mengambil sampel dari sedikit titik waktu, biasanya 3 hingga 5 titik, dan hanya berfokus pada satu bagian tubuh. Keterbatasan ini menyebabkan margin kesalahan sering kali lebih besar dari ±3 hari, terutama untuk sisa-sisa jenazah yang terpotong atau tidak utuh.

Mekanisme Kerja Sistem AI mHolmes

Untuk mengatasi keterbatasan metode konvensional, Ning dan timnya merancang AI mHolmes dengan pendekatan yang lebih komprehensif. Sistem ini dilatih menggunakan sampel mikrobioma kulit yang dikumpulkan setiap hari selama 21 hari dari area wajah dan pinggul 34 mayat manusia.

Proses pengumpulan data harian ini melatih sistem untuk memahami pola perkembangan dan perubahan mikroba pada tubuh manusia yang telah meninggal seiring berjalannya waktu. Pendekatan ini memberikan basis data yang jauh lebih kaya dibandingkan metode sebelumnya.

Keunggulan lain dari mHolmes adalah kemampuannya memanfaatkan hasil pelatihan dari satu bagian tubuh untuk memperkirakan waktu kematian berdasarkan bagian tubuh lainnya. Kemampuan ini menjadi sangat penting saat tim forensik harus mengidentifikasi jenazah dalam kondisi terpotong-potong atau hanya berupa sisa-sisa bagian tubuh tertentu.

Ning mengibaratkan mHolmes seperti prakirawan cuaca bagi mikroba.

mHolmes pada dasarnya adalah 'prakirawan cuaca untuk mikroba', sistem ini mempelajari bagaimana bakteri tumbuh dan menurun pada tubuh yang telah meninggal dalam jangka waktu lama

jelasnya.

Dengan teknologi ini, para ahli forensik diharapkan dapat memperoleh estimasi waktu kematian dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi, yang pada akhirnya dapat membantu proses penyelidikan kasus kriminal dan identifikasi jenazah secara lebih efektif.

Kecerdasan Buatan
← Kembali ke Sains

Berita lainnya