Peneliti Prediksi Super El Nino Tewaskan 451.000 Orang, Indonesia Terancam 19.300 Kematian
Fenomena iklim El Nino yang tengah berkembang di Samudra Pasifik berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah pencatatan. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan intensitas puncaknya akan terjadi pada awal tahun 2027, membawa dampak signifikan bagi berbagai kawasan dunia.
Penelitian terbaru dari Climate Impact Lab, University of Chicago, mengungkapkan proyeksi mengkhawatirkan terkait dampak kesehatan dari El Nino kali ini. Hingga Februari 2027, diperkirakan sekitar 451.000 kematian tambahan akan terjadi akibat paparan panas ekstrem yang dipicu fenomena ini.
Indonesia masuk dalam daftar negara dengan risiko tinggi. Menurut perkiraan Climate Impact Lab yang dilansir Reuters pada Kamis (24/9/2026), sekitar 19.300 kematian tambahan terkait panas dapat terjadi di Tanah Air. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi kedua tertinggi dalam proyeksi global tersebut.
Nigeria diprediksi akan mengalami dampak terburuk dengan sekitar 31.400 kematian tambahan. Sementara Sudan menempati urutan ketiga dengan prakiraan 17.600 korban jiwa akibat kondisi panas ekstrem.
Konsekuensi Meluas dari Pemanasan Samudra
Dampak El Nino tidak hanya terbatas pada ancaman kesehatan. Fenomena ini memicu rangkaian bencana alam yang saling terkait, mulai dari banjir bandang, kekeringan berkepanjangan, gelombang panas yang mematikan, hingga penurunan drastis produktivitas pertanian.
Para peneliti menegaskan bahwa langkah-langkah mitigasi masih dapat menyelamatkan puluhan ribu nyawa. Sistem peringatan dini yang efektif dan perlindungan khusus bagi pekerja yang beraktivitas di luar ruangan menjadi kunci dalam mengurangi jumlah korban.
Memahami Mekanisme El Nino
El Nino merupakan fase hangat dari siklus iklim alami yang dikenal sebagai El Nino-Southern Oscillation (ENSO). Siklus ini memiliki pengaruh luas terhadap pola cuaca global dan biasanya terjadi dalam interval dua hingga tujuh tahun.
Fenomena ini terjadi ketika angin pasat melemah, menyebabkan peningkatan suhu permukaan laut di bagian timur Samudra Pasifik. Perubahan suhu ini kemudian mengubah pola curah hujan dan suhu udara di berbagai belahan dunia.
Dampak El Nino bervariasi bergantung lokasi geografis. Di sejumlah wilayah, fenomena ini memicu kekeringan parah, sementara kawasan lain justru mengalami curah hujan berlebih yang berujung pada banjir.
Indikator Kekuatan Luar Biasa
Salah satu penanda utama perkembangan El Nino adalah anomali suhu permukaan laut. Data dari Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) menunjukkan angka yang mencengangkan.
Pada September ini, suhu permukaan laut di kawasan Pasifik khatulistiwa tercatat mencapai 3,05 derajat Celsius di atas rata-rata normal. Anomali ini merupakan yang tertinggi untuk fenomena El Nino sejak pencatatan dimulai, mengonfirmasi prediksi tentang kekuatan luar biasa dari peristiwa iklim kali ini.
Kombinasi antara intensitas yang sangat kuat dan jangkauan dampak yang luas membuat El Nino tahun ini menjadi perhatian serius komunitas ilmiah internasional. Persiapan dan respons yang tepat dari berbagai negara akan menentukan seberapa besar kerugian yang dapat diminimalkan.












