Kesehatan Masyarakat

3 menit baca

Yuni Astuti

Indonesia Peringkat Kedua Dunia dalam Proyeksi Kematian Akibat Panas El Niño

Penelitian Climate Impact Lab memproyeksikan 19.251 kematian tambahan akibat panas di Indonesia antara September 2026 hingga Februari 2027, menempatkan negara ini di urutan kedua global setelah Nigeria dalam dampak fenomena El Niño.

6a361bd05577b.jpg

Indonesia Peringkat Kedua Dunia dalam Proyeksi Kematian Akibat Panas El Niño

Indonesia menempati posisi kedua di dunia dalam proyeksi kematian akibat panas yang terkait dengan fenomena El Niño, berdasarkan laporan terbaru dari Climate Impact Lab, University of Chicago. Sebanyak 19.251 kematian tambahan diperkirakan terjadi di Indonesia dalam periode September 2026 hingga Februari 2027.

Angka tersebut menempatkan Indonesia tepat di bawah Nigeria, yang memproyeksikan 31.400 kematian terkait panas dalam periode yang sama. Secara global, lebih dari 451.000 orang diproyeksikan meninggal akibat tambahan panas yang berkaitan dengan El Niño kuat yang sedang berlangsung.

Proyeksi ini diterbitkan pada September 2026 dan mencakup perkiraan dampak hingga Februari 2027. Penelitian membandingkan perkiraan kematian terkait panas yang dapat dikaitkan dengan El Niño dengan jumlah kematian yang diperkirakan terjadi pada tahun-tahun normal.

Metodologi Berbasis Data Global

Climate Impact Lab menggunakan metodologi yang telah melalui peer review untuk menghasilkan proyeksi ini. Penelitian melacak hubungan bulanan antara suhu dan kematian tambahan akibat panas di 24.378 wilayah di seluruh dunia, area yang sebanding dengan ukuran kabupaten di Amerika Serikat dalam hal populasi.

Data tersebut kemudian digabungkan dengan prakiraan kenaikan suhu akibat El Niño dalam beberapa bulan mendatang. Sebagai pembanding, para peneliti menggunakan jumlah kematian akibat panas pada bulan-bulan rata-rata selama periode 1996-2025.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dalam prakiraan Agustus 2026 menyatakan bahwa kemungkinan El Niño akan bertahan hingga Desember 2026-Februari 2027 mencapai hampir 100 persen. El Niño 2026 diperkirakan mencapai intensitas sangat kuat dan menjadi salah satu yang terkuat dalam catatan sejarah, dengan suhu permukaan laut di wilayah pemantauan diproyeksikan melebihi 2,9 derajat Celsius di atas rata-rata.

Negara Berkembang Terdampak Paling Parah

Profesor Michael Greenstone, salah satu pendiri Climate Impact Lab sekaligus peneliti di University of Chicago yang turut menulis laporan tersebut, mengatakan angka kematian yang diproyeksikan merupakan angka yang sangat besar dan terdiri dari individu-individu nyata.

Perkiraan 451.000 orang merupakan angka yang sangat besar sehingga bisa membuat kita mati rasa, tetapi angka tersebut terdiri dari orangtua dan anak-anak, kakek-nenek dan tetangga, orang-orang yang pergi bekerja, merawat keluarga, dan menjalani kehidupan mereka.

Para peneliti memperkirakan suhu daratan global dapat meningkat sekitar 1,2 derajat Celsius, sementara hari-hari dengan suhu yang sangat panas diperkirakan terjadi 44 persen lebih sering dibandingkan tahun rata-rata. Agustus 2026 tercatat sebagai Agustus terpanas sejak pencatatan dimulai pada 1850, menurut US National Centers for Environmental Information.

Greenstone mengatakan, temuan tersebut menunjukkan bahwa panas menimbulkan ancaman terbesar di wilayah yang suhunya memang sudah tinggi, terutama pada wilayah dengan tingkat pendapatan yang relatif rendah.

Jika Anda sudah berada di tempat yang panas, tambahan beberapa derajat akan jauh lebih berbahaya.

Menurutnya, wilayah yang lebih kaya atau dengan pendapatan tinggi cenderung memiliki akses yang lebih baik terhadap pendingin ruangan, pasokan air yang stabil, dan layanan kesehatan.

Kesenjangan Akses Pendingin Udara

Kesenjangan infrastruktur pendinginan menjadi salah satu faktor kunci kerentanan Indonesia. Data UNICEF menunjukkan bahwa hanya sekitar 20 persen rumah tangga di Indonesia memiliki akses terhadap pendingin udara. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat yang memiliki tingkat kepemilikan AC lebih dari 85 persen.

Wilayah Sahel di Afrika diproyeksikan mengalami angka kematian regional tertinggi dengan sekitar 66.800 kematian tambahan terkait panas, menjadikannya kawasan yang paling parah terdampak secara global. Wilayah ini mencakup negara-negara di sepanjang pinggiran selatan Gurun Sahara yang bersifat semi-kering.

Sebagai perbandingan historis, El Niño 1997-98 yang sebelumnya merupakan yang terkuat dalam catatan, mengakibatkan sekitar 23.000 kematian di seluruh dunia akibat peristiwa cuaca ekstrem. Proyeksi kematian 2026-2027 hampir 20 kali lipat lebih tinggi, menunjukkan tingkat keparahan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Respons Indonesia

Pemerintah Indonesia telah menunjukkan kesadaran terhadap ancaman panas ekstrem. Pada Juli 2026, Indonesia meluncurkan inisiatif KATALIS-HEAT untuk memahami dan mengatasi dampak kesehatan dari panas ekstrem. Program ini diakui oleh WHO sebagai langkah penting mengingat informasi spesifik tentang dampak panas terhadap kesehatan di Indonesia masih terbatas meskipun kerentanan negara ini terus meningkat.

Proyeksi Climate Impact Lab menekankan urgensi kesiapsiagaan menghadapi dampak perubahan iklim, khususnya di negara-negara berkembang yang memiliki kerentanan tinggi namun kapasitas adaptasi yang terbatas.

KemiskinanIndonesiaPerubahan Iklim
← Kembali ke Kesehatan Masyarakat

Berita lainnya