Amerika

3 menit baca

Maya Kartika

Tingkat Kepuasan Publik terhadap Trump Jatuh ke Titik Terendah Sepanjang Masa Jabatannya

Survei Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat persetujuan Presiden Trump anjlok ke 33 persen, menyamai rekor terendah pada Desember 2017, akibat krisis BBM dan perang berkepanjangan dengan Iran menjelang pemilu sela November.

6a749de751e6d.png

Tingkat Kepuasan Publik terhadap Trump Jatuh ke Titik Terendah Sepanjang Masa Jabatannya

Tingkat kepuasan publik Amerika Serikat terhadap kinerja Presiden Donald Trump telah merosot ke 33 persen, menyamai titik terendah yang pernah dicapai selama masa jabatannya pada Desember 2017. Penurunan drastis ini terutama dipicu oleh melonjaknya harga bahan bakar minyak dan kekhawatiran terhadap konflik militer berkepanjangan dengan Iran.

Survei Reuters/Ipsos yang dilakukan secara daring terhadap 1.166 responden dewasa di seluruh Amerika Serikat mencatat 64 persen menyatakan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Trump. Jajak pendapat dengan margin kesalahan 3 persen ini menunjukkan penurunan dari 35 persen pada awal Agustus, sekaligus mengonfirmasi bahwa angka ini setara dengan posisi terendah yang tercatat oleh Reuters/Ipsos selama kepresidenan Trump.

Penurunan Tajam dari Awal Masa Jabatan Kedua

Ketika Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, tingkat persetujuannya mencapai 47 persen. Angka tersebut kini telah turun 14 poin persentase dalam kurun waktu kurang dari dua tahun. Penurunan ini mencerminkan kekecewaan luas terhadap janji-janji kampanye yang belum terealisasi, terutama terkait pengendalian inflasi dan penghindaran konflik militer panjang.

Trump sempat berjanji akan menekan inflasi, menghindari perang berkepanjangan, dan memprediksi bahwa konflik dengan Iran hanya akan berlangsung beberapa minggu. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Iran terus bertahan dan memblokade Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak yang mengalirkan sekitar 25 persen pasokan minyak global atau 20 juta barel per hari, yang mencakup sekitar 34 persen perdagangan minyak mentah dunia.

Dampak Perang Iran terhadap Ekonomi

Konflik militer yang dimulai pada akhir Februari 2026 atas perintah Trump bersama sekutu Israel telah mengganggu rantai pasokan energi global. Blockade Selat Hormuz oleh Iran memicu lonjakan harga BBM di Amerika Serikat, menimbulkan beban ekonomi bagi warga negara. Minyak yang melewati selat tersebut sebagian besar mengalir ke Asia, dengan China menerima 37,7 persen dari total ekspor minyak melalui jalur tersebut, sementara negara-negara Asia secara kolektif menerima sekitar 89 persen aliran minyak mentah.

Hasil survei menunjukkan bahwa 80 persen warga Amerika—termasuk 87 persen dari Partai Demokrat dan 71 persen dari Partai Republik—meyakini keterlibatan militer AS di Iran akan berlangsung dalam jangka waktu panjang. Hanya 16 persen responden yang percaya konflik tersebut akan berakhir dalam beberapa minggu.

Pergeseran Kepercayaan Ekonomi ke Partai Demokrat

Untuk pertama kalinya dalam sekitar satu dekade, para pemilih kini lebih memercayai Partai Demokrat ketimbang Partai Republik dalam mengelola perekonomian. Sebanyak 38 persen responden menilai Demokrat mampu mengelola ekonomi dengan lebih baik, sementara 35 persen memilih pendekatan Republik. Pergeseran ini terjadi selama masa jabatan kedua Trump dan menandai perubahan signifikan dalam persepsi publik terhadap kemampuan kedua partai.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan Partai Republik yang sedang berjuang mempertahankan mayoritas tipis mereka di Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat menjelang pemilu sela 3 November 2026. Semua 435 kursi DPR dan 35 kursi Senat akan diperebutkan dalam pemilihan tersebut. Saat ini, Partai Republik memegang mayoritas 53-45 di Senat dan 218-214 di DPR, sehingga setiap pergeseran suara dapat mengubah keseimbangan kekuasaan di Kongres.

Tekanan terhadap Kebijakan Ekonomi

Presiden Trump dilaporkan beberapa kali menelepon Ketua Federal Reserve Kevin Warsh sejak Mei 2026 untuk membahas prospek ekonomi dan isu strategis lainnya. Warsh, yang dilantik sebagai Ketua The Fed pada 22 Mei 2026 menggantikan Jerome Powell, dikonfirmasi oleh Senat dengan suara tipis 54-45, menjadikannya konfirmasi paling terpecah dalam sejarah lembaga tersebut.

Reuters/Ipsos, yang melakukan setidaknya 24 jajak pendapat persetujuan presiden per tahun, menggunakan metodologi standar dengan margin kesalahan sekitar 3 poin persentase untuk survei dengan sekitar 1.000 responden. Konsistensi metodologi ini memungkinkan perbandingan langsung dengan data historis, termasuk angka terendah 33 persen yang dicatat pada Desember 2017 selama masa jabatan pertama Trump.

Perang UkrainaDonald Trump
← Kembali ke Amerika

Berita lainnya