Keamanan Siber

4 menit baca

Putri Maharani

Informasi Undian Berhadiah BRI Festival September 2026 Adalah Penipuan

Unggahan di Facebook yang mengklaim adanya undian berhadiah mobil, motor, emas, dan paket umrah dari BRI pada September 2026 telah diverifikasi sebagai hoaks. BRI tidak menyelenggarakan program tersebut dan meminta nasabah waspada terhadap modus penipuan serupa.

6a26da44c611c.jpg

Informasi Undian Berhadiah BRI Festival September 2026 Adalah Penipuan

Informasi tentang undian berhadiah mengatasnamakan Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang menjanjikan hadiah mobil, sepeda motor, emas, uang tunai, serta paket umrah dan wisata telah beredar di media sosial pada akhir September 2026. Setelah dilakukan verifikasi oleh Tim Cek Fakta Kompas.com, informasi tersebut terbukti palsu dan merupakan upaya penipuan.

Unggahan yang menyebar di platform Facebook mengklaim bahwa BRI mengadakan "BRI Festival" dengan berbagai hadiah menarik, termasuk 10 unit Honda Brio, Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, puluhan motor, tablet, laptop, paket umrah, paket wisata Malaysia, uang tunai Rp 600 juta, emas batangan, dan televisi LED. Narasi tersebut menyebutkan bahwa program ini khusus untuk nasabah BRI yang telah memiliki aplikasi BRImo dan mengajak calon korban untuk mendaftar melalui tautan tertentu.

Penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com tidak menemukan informasi resmi mengenai program undian berhadiah tersebut di situs web maupun akun media sosial resmi BRI, baik di Facebook maupun Instagram. Unggahan penipuan ini umumnya mengarahkan pengguna ke tautan mencurigakan yang tidak terhubung dengan domain resmi BRI.

Skala Penipuan Keuangan di Indonesia

Modus penipuan yang mengatasnamakan lembaga keuangan seperti BRI bukan fenomena baru di Indonesia. Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga 26 Februari 2026, tercatat 477.600 laporan penipuan di sektor jasa keuangan. Dari jumlah tersebut, 243.323 laporan disampaikan melalui penyedia layanan keuangan, sementara 234.277 laporan diterima langsung oleh Indonesia Anti-Scam Centre (IASC).

Kerugian finansial akibat penipuan online di Indonesia mencapai angka yang mengkhawatirkan. Antara November 2024 hingga Juni 2026, IASC mencatat total kerugian mencapai Rp 9,1 triliun (sekitar 534 juta dolar AS). Dalam periode yang sama, IASC menerima 608.168 laporan penipuan dan berhasil memblokir 557.751 akun palsu yang digunakan untuk aktivitas penipuan.

OJK memperkirakan bahwa setiap hari terjadi sekitar 700-800 kasus penipuan online di Indonesia. Tingkat kejahatan siber terus meningkat, dengan serangan deepfake mengalami lonjakan sekitar 1.400 persen antara tahun 2024 dan 2025, menunjukkan semakin canggihnya metode yang digunakan penipu.

Indonesia sebagai Target Utama Penipuan Global

Kerentanan Indonesia terhadap penipuan mendapat perhatian internasional. Menurut Global Fraud Index 2025, Indonesia menempati peringkat kedua negara paling rentan terhadap penipuan di dunia dengan skor 6,53 dari 10. Meskipun posisi ini menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun 2024 ketika Indonesia berada di peringkat pertama, angka tersebut tetap mengindikasikan tantangan serius dalam pemberantasan kejahatan siber di negara ini.

Studi yang dilakukan Mastercard pada tahun 2025 mengungkapkan bahwa dua pertiga orang dewasa Indonesia mengaku pernah menghadapi upaya penipuan dalam 12 bulan terakhir, dengan rata-rata 55 kali pertemuan dengan skema penipuan per orang per tahun. Lebih dari sepertiga responden benar-benar menjadi korban, dengan rata-rata 2,2 penipuan per korban.

Jenis penipuan yang paling umum di Indonesia adalah penipuan investasi yang menyumbang 63 persen dari total kasus, diikuti oleh penipuan belanja online dan penipuan amal yang masing-masing mencapai 55 persen. Para penipu umumnya menerima pembayaran melalui transfer bank (65 persen) dan dompet digital (43 persen).

BRImo sebagai Target Empuk Penipu

Aplikasi perbankan digital BRI, BRImo, menjadi sasaran utama para penipu karena basis penggunanya yang sangat besar. Hingga November 2024, BRImo telah mengumpulkan 38,1 juta pengguna, meningkat 22,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikannya aplikasi perbankan mobile paling banyak diunduh di Indonesia. Jumlah pengguna yang masif ini membuat BRImo menarik bagi penipu yang ingin menjangkau korban sebanyak mungkin.

Platform media sosial, khususnya Facebook, sering dimanfaatkan penipu untuk menyebarkan skema undian dan hadiah palsu. Menurut FBI Internet Crime Complaint Center, sekitar sepertiga dari pengaduan penipuan undian berhadiah melibatkan media sosial, dengan Facebook Messenger menjadi metode favorit para penipu.

Peringatan dari BRI

Arga M. Nugraha, Direktur Digital dan Teknologi Informasi BRI, menekankan pentingnya nasabah melindungi data pribadi mereka untuk menghindari jebakan kejahatan siber. Arga, yang memimpin transformasi digital BRI termasuk langkah-langkah keamanan untuk BRImo dan kemitraan dengan perusahaan seperti Microsoft untuk menerapkan deteksi penipuan berbasis kecerdasan buatan, mengimbau nasabah untuk hanya menggunakan kanal resmi BRI.

BRI secara konsisten memperingatkan nasabahnya untuk waspada terhadap modus penipuan yang mengatasnamakan bank, khususnya yang beredar di media sosial. Unggahan penipuan seperti undian berhadiah palsu biasanya terhubung ke tautan yang tidak dikenal dan tidak mengarah ke situs web resmi BRI. Nasabah disarankan untuk selalu memverifikasi informasi melalui kanal komunikasi resmi bank sebelum memberikan data pribadi atau mengikuti instruksi dari sumber yang tidak terverifikasi.

BRI tidak pernah meminta nasabah untuk memberikan informasi sensitif seperti PIN, password, atau kode OTP melalui telepon, pesan, atau tautan di media sosial. Setiap program promosi atau undian berhadiah resmi dari BRI akan diumumkan melalui saluran komunikasi resmi bank, termasuk situs web, aplikasi BRImo, dan akun media sosial terverifikasi.

Media SosialKecerdasan BuatanPerlindungan Data Pribadi
← Kembali ke Keamanan Siber

Berita lainnya